Senin, 01 Desember 2008

Mereka Menghalalkan Darah Kaum Muslimin



Sebelum membaca tulisan saya sebaiknya bacalah ini dulu baru yang ini..!!

Lihat dan baca baik-baik fatwa ulama Jamaah Takfiriyah di dalam kitab Tarikhul Mamlakah As-saudiyyah li Shalahuddin Al-mukhtar [Alwahabi] cetakan Beirut, juz dua, Halaman 344, fatwa ulama kalian mengatakan bahwa: “Barangsiapa yang bertawassul di pusara Nabi dan menjadikannya sebagai perantara menuju Allah s.w.t. maka dia adalah KAFIR dan dia harus bertaubat tiga kali dan jika tidak maka ganjaran yang pasti buat dia adalah di BUNUH”.

Mereka Menghalalkan Darah Kaum Muslimin

Dalam makalah kecil dan sederhana ini saya akan menuliskan fakta dan data data tentang pengkafiran semua Mazhab Islamiyah oleh wahhabiyah. Seperti yang sudah maklum, salah satu ciri khas dari akidah besutan M Bin Abdul Wahhab ini adalah mengkafirkan umat yang tidak seakidah dan seiman dengannya. Mereka tanpa basa basi latah menghalalkan darah kaum muslimin. Oleh karena itu jika muslimin tidak waspada dengan gerakan yang mengatasnamakan penegak TAUHID ini maka ketentraman yang dibangun oleh pemimpin Mazhab akan sia-sia. Dialog antar mazhab yang diusahakan oleh pemerintah dan diamini mazhab Islam beberapa minggu lalu akan menguap. Sebab Jamaah Takfiriyah ini tidak akan berpangku tangan begitu saja. Mereka akan bergerilya menghasut masyarakat awam dengan iming-iming metro dolar.

Jika kita telaah Majalah Al-Furqon, Edisi 09 Tahun V/Rabi’u Tsani 1427/Mei 2006M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon disana dijelaskan secara gamblang dan jelas kelompok-kelompok yang di anggap penyebar TBC. Dimulai dari Syi’ah, Shufiyyah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Quthbiyyah Ikhwaniyyah, Quthbiyyah Sururiyyah, Tablighiyyah, Hizbut Tahrir, dan sederet nama-nama lainnya yang dianggap sesat dan menyesatkan ummat. Dan dari klaim klaim yang mereka dakwakan mereka sedang merusak agama Muhammadi dan menyebarkan TBC di tengah masyarakat. [Lihat Al-Furqon, Edisi 09 Tahun V/Rabi’u Tsani 1427/Mei 2006M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon. Jawa Timur]

Disaat umat Islam bergandengan tangan untuk merapatkan barisan untuk menumpas musuh musuh Allah s.w.t, disaat para pemimpin mazhab Islamiyah menegakkan dan mengalang persatuan islamiyah, Mazhab yang mengaku sebagai penegak agama Allah dan penegak Tauhid ini justru menikam ummat Islam dari dalam. Lah kok bisa ….. baca selanjutnya.

Ayyuhal wahabiyuun……. Lihat fatwa ulama kalian …!!! Didalam kitab ar-Raddu alal Ahnani li Ibni Taimiyyah cetakan Assalafiyah wa Maktabatuha, Halaman 24: dikatakan bahwa “Hanya orang bahlul dan bodoh dan KAFIRlah yang pergi untuk ziarah ke kubur Nabi s.a.w.”.

Lihat dan baca..!! dan cerna baik-baik fatwa ulama Jamaah Takfiriyah.. di dalam kitab Tarikhul Mamlakah As-saudiyyah li Shalahuddin Al-mukhtar [Alwahabi] cetakan Beirut, juz dua, Halaman 344, fatwa ulama kalian mengatakan bahwa: “Barangsiapa yang bertawassul di pusara Nabi dan menjadikannya sebagai perantara menuju Allah s.w.t. maka dia adalah KAFIR dan dia harus bertaubat tiga kali dan jika tidak maka ganjaran yang pasti buat dia adalah di BUNUH”.

Lihat juga di dalam novel yang dikarang oleh Abdul Aziz bin Baz, dalam Novelnya yang di berlabel Al-akidah As-shahihah wa Nawaqidhul Islam. Disana dikatakan bahwa: “Barangsiapa yang minta tolong kepada Nabi s.a.w dan meminta kepada Rasul syafaatnya maka ketahuilah mereka telah MURTAD [keluar dari Islam,red]”.

Lihat juga kitab yang di karang oleh si anak durhaka dari Najd di dalam kitabnya yang berlabel Kasfu As-syubuhat fit Tauhid li Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Al-qahirah, halaman 6. disana si anak durhaka dengan latah mengecap mereka yang berdalil dan menetapkan bahwa syafaat adalah sebuah kebenaran atau mereka yang berkeyakinan bahwa para auliya Allah s.w.t mempunyai maqam khusus disisiNYA, di anggap sebagai MUSRIKIIN.

Bagi yang ingin lebih jauh mengetahui seberapa ghulu dan kelewat batas dalam mengkafirkan ummat Islam dan bahkan semua mazhab Islam saya sarankan untuk merujuk kembali kitab “Kasfu As-subuhat” M bin Abdul Wahhab dan kitab risalahnya Ibnu Taimiyyah. Atau kitab Ad-dururu As-sanniyah oleh Abdurahman bin Muhammad bin Qasim Hanbali An-najdi. Tapi dalam makalah ini saya akan nukilkan sedikit dari kitab yang terakhir ini.

Dalam kitab Ad-dururu As-sanniyah, juz 10, Halaman 51 Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:”Sebelum Allah s.w.t. memberikan kepada saya anugerah. saya tidak mengetahui makna La ilaha ilallah dan tidak memahami agama Islam, sementara ketika itu banyak di antara Syeikh-syeikh yang ada tidak ada yang mampu memahami makna itu. Jadi jika ada salah satu dari ulama yang mengaku memahami makna itu atau mengaku telah mengetahui makna Islam sebelum jaman saya atau mengira bahwa salah satu dari ulama [yang dicap TBC, red] itu memahami makna itu sebelum jaman saya, berarti dia telah berbohong dan telah menyamarkan makna ini serta dia telah memaknai sesuatu yang tidak dia ketahui”. Dari perkataan ini apa yang kita bisa ambil…?. Secara tidak sadar muassis Jamaah Takfiriyah Al-wahhabiyah ini telah meragukan dan meganggap bodoh semua lapisan masyarakat serta mengkafirkan semua ulama-ulama sebelumnya. Dan hanya dia saja yang bertauhid kepada Allah s.w.t. sebab mereka semua itu masih menyebarkan TBC.

Masih dalam kitab yang sama juz 10, Halaman 31, sepucuk surat ditulis oleh M bin Abdul Wahhab ditujukan kepada Syeikh Sulaiman bin Sakhim [Syeikh ini adalah pengikut Mazhab Hanbali dan salah satu muqallidnya Ibnu Taimiyah] dan mengatakan:”Saya ingatkan engkau, kamu dan ayahmu sudah jelas jelas dalam kekafiran, musrik dan nifaq! Engkau dan ayahmu setiap hari hanya berusaha untuk memusuhi agama islam, walaupun engkau mempunyai ilmu tetapi engaku malah tersesat dan engkau telah memilih kekafiran dari pada memilih Islam.

Mudah mudahan kita di beri waktu oleh Allah s.w.t dan sambil mengharap syafaat Kanjeng Nabi s.a.w untuk mengulas dan mengupas lebih detail lagi isi dari kitab “Kasfu As-subuhat” serta membandingkannya dengan kutub Arbaah. InsyaAllah Taala.

Jayyid….

Saya bertanya kepada anda wahai Wahabiyyun….. masihkah berani mengelak dan mengatakan bahwa mazhab yang anda tuhankan itu bukanlah mazhab Takfiriyah..??? Apakah kalian masih belum sadar bahwa menghukum kaum muslimin dengan klaim dan dakwaan:”Karena Rasullullah tidak melakukan perbuatan itu maka pelakunya adalah BID’AH” hakekatnya adalah menghinakan sesama Muslim..?? maka, apakah ketika Kanjeng Nabi s.a.w tidak mempunyai kesempatan untuk mencium tangan suci abahnya dan ketika kita mencium kedua tangan orang tua kita, kita menjadi dholalah..?? dan layak masuk neraka..??. Benarkah demikian.

Wahabiyun memang senang berkelakar dengan menukil ayat suci Al-quran bahwa tidak akan ada lagi hukum-hukum dalam Islam karena Allah s.w.t. telah menyempurnakan agamaNYA sebagaimana tertulis dalam firman Allah s.w.t dalam Al-quran, ayat 3 surat al-Maidah: “Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Jika demikian adanya… maka pertanyaanya adalah tidakkah pernyataan kalian ini justru memperkuat dakwaan bahwa Islam tidak bisa sejalan dengan perkembangan zaman. Bahwa Islam tidak mampu menjawab hukum hukum dari sebuah peristiwa yang bermunculan seiring dengan perkembangan zaman dan tidak ada pada zaman rasul. Dan ingat hukum hukum itu tidak bisa kita jawab dengan klaim sambil mengatakan “yang itu HARAM” atau “yang itu HALAL” atau “ yang ini BID’AH” atau yang ini Sunnah” hanya lantaran anda berdalih dengan slogan:”Karena Rasullullah tidak melakukan perbuatan itu maka pelakunya adalah BID’AH”. Ini sebuah kejumutan dan ketahuilah andalah sijumut itu. Ketahulilah andalah yang membelenggu nalar anda dan memperkosa kemanusiaan anda. Dan anda pulalah yang tidak memanusiakan manusia.

Anehnya lagi mereka menolak bentuk dan jenis gambar yang bernyawa. Sementara gambar para penguasa dholim bani Sauud tertera di lembaran lembaran riyal dan masuk ke kantong kantong celana dan menikmatinya setiap saat. Apakah ini bukan sebuah pagelaran bid’ah yang paling nyata…???.!!!!!. Allahu A’lam

Bersambung.

Manusiakanlah Manusia: Untuk Jamaah Takfiriyah

Diatas itu hanyalah beberapa contoh kecil dari berjuta-juta dalil yang bisa kita saksikan dalam kitab-kitab sejarah dan yang bisa kita jadikan bukti bahwa tidaklah menjadi sebuah kelaziman bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi tetapi kita melakukannya adalah TBC. Apalagi dalil untuk itu hanya karena berdasarkan “Karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukannya”. Aneh memang. Dengan demikian berdasarkan fakta sejarah dan bukti nyata, maka jangan salahkan jika saya sangat yakin bahwa Ibnu Taimiyah dan M bin Abdul Wahhab keberadannya adalah benar-benar benalu dalam Islam. Bahwa benar-benar fatwa mereka adalah untuk menurunkan derajat manusia kedlam titik yang paling rendah.

Manusiakanlah Manusia: Untuk Jamaah Takfiriyah

saya ucapkan terimakasih dan saya hadiahkan sekuntum bunga buat mereka yang selalu memanusiakan manusia dan yang tidak meng-anjingkan manusia. [mencomot istilahnya wadehel].

Loh kok judulnya agak sedikit garang…?? Iyalah…lah mazhab yang mengaku sebagai salafy ini sejak kapan pernah menganggap manusia itu sebagai manusia, mereka senang dan orgasme ketika mereka menjulurkan moncongnya sambil mendakwa bagi mereka yang tidak semazhab dan seiman dengannya melalui fatwa-fatwa ulama mereka dengan sebutan sesat dan kafir. Tentu saja jimat andalan mereka adalah TBC. Penalaran yang pendek dan kaku terhadap teks-teks al-Quran dan Hadist inilah yang membuat mereka masuk dalam lubang TBC tanpa disadarinya. Kalau saja dakwaan mereka itu benar adanya bahwa satu amalan atau pekerjaan ibadah itu di anggap TBC hanya karena Kanjeng Nabi s.a.w. tidak pernah melakukan lalu kenapa sebagian sahabat juga melakukannya…?? Dan toh sampai saat ini mereka juga mengamininya. Kenapa pangkat TBC itu tidak disematkan di jidat mereka sendiri dan para sahabat Nabi…??.

Satu contoh kecil dan konkret adalah apa yang telah dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga dan keempat. Misalnya pada zaman Abu Bakar kenapa khalifah ini mewasiyatkan dan melimpahkan tampuk kekhalifahan kepada Umar Bin Khattab..??. bukankah kanjeng Nabi s.a.w. tidak pernah melakukanya..??? kenapa wahai… Takfiriyuun….. anda tidak menganggap perbuatan itu sebagai bi’dah..??. Kasus kedua misalnya yang pernah dilakukan oleh Khalifah kedua dan tidak pernah dijalankan oleh Kanjeng Nabi s.a.w. adalah menghilangkan kalimat “Hayya ala khairil amal” pada setiap adzan dan menambah kalimat “ Asholaatu khairu minan naum” pada adzan subuh..???. Bukankah ini bukti menambah dan mengurangi apa-apa yang telah dilakukan oleh kanjeng Nabi..??? Bid’ahkah mereka..????.

Dalam kasus khalifah ketiga misalnya, Khalifah Usman bin Affan juga membolehkan sholat Tamam [sempurna][tanpa qhasar] ketika seseorang itu musafir dan melebihi batas…. Padahal sejak zaman Kanjeng Nabi s.a.w. dan para sahabat perbuatan itu tidak pernah dilakukannya. Kenapa anda tidak mengatakan Khalifah ketiga telah melakukan bid’ah. Lalu untuk khalifah yang ke empat Ali bin Abi Thalib adalah ketika beliau bertawassul di pusara kanjeng Nabi s.a.w. [lihat tulisan saya Menjawab Soalan Jammaah takfiriyah]. Terkena penyakit TBCkah mereka-mereka itu..??. atau malahan hakekat wujud anda itulah yang TBC.

Diatas itu hanyalah beberapa contoh kecil dari berjuta-juta dalil yang bisa kita saksikan dalam kitab-kitab sejarah dan yang bisa kita jadikan bukti bahwa tidaklah menjadi sebuah kelaziman bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi tetapi kita melakukannya adalah TBC. Apalagi dalil untuk itu hanya karena berdasarkan “Karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukannya”. Aneh memang. Dengan demikian berdasarkan fakta sejarah dan bukti nyata, maka jangan salahkan jika saya sangat yakin bahwa Ibnu Taimiyah dan M bin Abdul Wahhab keberadannya adalah benar-benar benalu dalam Islam. Bahwa benar-benar fatwa mereka adalah untuk menurunkan derajat manusia kedlam titik yang paling rendah. Allahu A’lam

Maulid Nabi antara Halal dan Haram: Kritik atas Jamaah Takfiriyah



Dan salah satu bentuk untuk mengenang dan meneladani beliau adalah dengan selalu mengingatnya. Persis kaum Wahabi ketika mengenang Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab dengan cara menukil dan menghidupkan manhaj TBCnya, hanya saja mereka tidak sadar bahwa dengan menghidupkan manhaj dan menukil fatwa-fatwa TBC itu pada hahekatnya adalah mengenangnya dan memperingatinya. Dan kesalahan fatal yang di lakukan oleh kaum wahabi adalah dengan klaim bahwa setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah. Padahal tidak “mesti” [dalam tanda kutip] demikian.

Maulid Nabi antara Halal dan Haram: Kritik atas Jamaah Takfiriyah

Assalamualaika Ya Sulalatul Wujud…. Assalamualaika Ya Sofwatul Wujud…. Assalamualaika Ya Zubdatul Wujud, Assalamualaika Ya Musthofa Muhammad s.a.w.

Kepada Kaum Muslimin dan Muslimat, Saya Ucapkan “Selamat Atas kelahiran manusia suci, manusia agung, nuurul wujud Muhammad s.a.w”.

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [Lihat Al-quran
surat Maryam, Ayat 15]

Seperti biasa, di setiap bulan Rabiul Awwal, seperti tahun-tahun lalu, umat Islam di pojok dan sudut dunia, kembali memperingati hari kelahiran [maulid] Nabi Muhammad s.a.w. Seperti biasa pula umat Islam tumpah ruah bergembira menyambut hari kelahiran sang Matahari petunjuk segenap manusia. Muhammad s.a.w di lahirkan untuk menyobek tirai kegelapan dunia dan arab jahili. Namun demikian ada diantara umat manusia yang mengaku sebagai penerus dan penegak risalah Muhammadi s.a.w. tapi menghardik dan menyematkan dzikir TBC [Tahayul, Bid’ah, Churafat] tepat di kening umat Islam yang memperingati hari kelahiran sang Zubdatul Wujud ini.

Ada apa ini…?? Kenapa musti pangkat TBC..?? apakah dengan alasan bahwa Kanjeng Nabi s.a.w tidak pernah melaksanakan bahkan untuk memerintahkannya sehingga kita layak menjadi tumbal TBC..?. Sesederhana inikah alasannya…? Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengapa umat Islam merasa perlu dan harus memperingati hari kelahiran Nabi, padahal seperti kita ketahui Nabi s.a.w tidak pernah melakukannya bahkan memerintahkannya ?. TBCkah perbuatan ini..?

Jayyid…. Dalam makalah sederhana ini kita mencoba menyingkap makna dibalik peringatan Maulid Nabi s.a.w ini.

Kanjeng Nabi s.a.w dalam Al-quran

Banyak ragam cara manusia di alam ini ketika me-apresiasi sesuatu yang agung dan yang di agungkan, apalagi pangkat “agung” itu yang menyematkan adalah Allah s.w.t yang Maha Agung. Allah s.w.t. dalam Al-quran, Allah s.w.t. ketika mensifati keagungan Kanjeng Nabi s.a.w berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat dan salam kepadanya dengan sempurna.” [Lihat QS Al-Ahzab, 33 : 56]. Begitu juga Allah s.w.t ketika mensifati Kanjeng Nabi s.a.w sebagai “Rahmatan lil Alamin” dalam Al-quran berfirman: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam”. [Lihat QS Al-Anbiya, 21 : 107.]

Salah satu pujian Allah s.w.t. terhadap Kanjeng Nabi s.a.w adalah dengan memerintahkan kepada semua ciptaannya untuk bershalawat kepadanya. Malaikat sekalipun. Oleh karena itu Kanjeng Nabi s.a.w layak mendapat titel “Rahmatan lil alamiin” karena memang dalam diri beliau selalu tercurah rahmat Allah dan kemudian rahmat tersebut beliau sebarkan ke seluruh makhluk Allah s.w.t. Sementara itu, agar manusia dapat menyerap rahmatNYA, tidak ada jalan lain kecuali dengan mencintai dan mengikuti teladan beliau. Untuk menanamkan kecintaan kepada beliau, maka kita pun selayaknya untuk selalu mengenang beliau.

Dan salah satu bentuk untuk mengenang dan meneladani beliau adalah dengan selalu mengingatnya. Persis kaum Wahabi ketika mengenang Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab dengan cara menukil dan menghidupkan manhaj TBCnya, hanya saja mereka tidak sadar bahwa dengan menghidupkan manhaj dan menukil fatwa-fatwa TBC itu pada hahekatnya adalah mengenangnya dan memperingatinya. Dan kesalahan fatal yang di lakukan oleh kaum wahabi adalah dengan klaim bahwa setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah. Padahal tidak “mesti” [dalam tanda kutip] demikian.

Contoh kecil adalah kalau saja setiap yang di lakukan atau yang tidak di lakukan oleh kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah apakah ketika beliau mengendarai onta juga di anggap sunnah dan wajib bagi kita untuk mengikutinya..?? atau apakah ketika rasul tidak berdakwah melalui internet dan kita melakukan dakwah melalui internet adalah TBC..? dan banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari kita yang tidak dilakukan oleh kanjeng Nabi, Sahabat, Tabiin, dan Tabiin Tabiin. TBCkah kita..?

Zubdatul Basyariyah

Allah s.w.t. Maha Karim wa yuhibbul karom. Dalam Al-quran disebutkan: “Laqad karramna Bani Adam…” dan :”Yarfaullahul ladhina aamanu minkum..”. dan :”Walladhina uutul ilma darajah..”. atau :”Inna akramakum indallahi atqakum”. Semua ayat diatas adalah menceritakan betapa Allah swt menyaring di antara makhluknya dan memulyakanNYA dengan memberikan beberapa afdholiyah dan kemulyaan. Dan inilah yang oleh Allah swt mereka disebut sebagai “Al asholatul Basyariyah” . Dan maqam serta kemulyaan ini hanya dihuni dan dimiliki oleh mereka-mereka yang beriman, berilmu, dan bertaqwa. Dan dari makhluk Allah swt yang tersaring itu, Allah swt juga menyaring lagi yang didalamnya di huni oleh para Anbiya Allah , para Auliya Allah yang dikenal dengan sebutan “Sulalatul Basyariyah”. Belum berhenti sampai disitu Allah swt juga menyaring lagi diantara anbiya Allah yang kita kenal dengan Nabi Ulil Azmi, yang disebut sebagai “Sofwatul Basyariyah”.

Lalu dimana letak dan kedudukan Kanjeng Nabi s.a.w..?. Karena Kanjeng Nabi s.a.w adalah inti sari dari semua makhluk Allah s.w.t., maka disinilah letak keangungannya yang tidak tertandingi oleh makhluk dari zaman Nabi Adam a.s. hingga hari kiamat nanti. Dari makhluk di bumi maupun dilangit. Oleh karena itu karena Kanjeng Nabi s.a.w adalah inti sari dari semua makhluk, perasan dari segala inti maka beliau disebut sebagai “Zubdatul Basyariyah”. Oleh karena itu Allah s.w.t bersahalawat kepadanya dan menyeru kepada alam hatta malaikat untuk bershalawat kepadanya. Maka ayyuhannas….. !! bershalawatlah atasnya.

Perbedaan diantara maqam keempat itu adalah bahwa Asshulalah dan Asshoffah adalah inti sari dari Alasholah, semantara Zubdah adalah inti sari dari keduanya. Maka ayyuhannas…Renungkanlah kedudukan Rasul kecintaan Allah s.w.t. ini..!! [Lihat kamus lisanul Arab].

Syiar dan Maulid Nabi

Begitulah kedudukan Kanjeng Nabi s.a.w. disisi Allah s.w.t. Sulit untuk diterjemahkan dalam kata dan tulisan. Wa ma adroka Muhammad illa Muhammad !!

Memperingati kelahiran Nabi s.a.w adalah salah bentuk dari sebuah penghormatan dan pengagungan, menghidupkan kembali keafdholiannya, bentuk lain dari syiar. Jika dalam memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi s.a.w itu di anggap TBC hanya gara-gara sebagian kecil dari pelaku di “anggap keterlaluan” [Lihat Majmu’ Fatawa fii Arkanil Islam, soal no. 89] kenapa yang di anggap TBC adalah memperingatinya..?? dan bukan pelaku yang di anggap menyimpang..??. Bukankah Allah s.w.t dalam Al-quran juga mengucapkan selamat atas Nabi Isa a.s….?. “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [Lihat Al-quran surat Maryam, Ayat 15].

Kenapa kita di cap terkena penyakit TBC ketika kita mengucapkan selamat datang wahai Zubdatul Basyariyah dalam kitab Al-barjanji…??. Bukankah Allah s.w.t. juga melakukanya kepada Kekasihnya [Nabi Isa a.s]…??

Masuk nerakakah kita, ketika bersyukur atas Kanjeng Nabi s.a.w dengan membaca Qasidah dan pujian-pujian atas Kanjeng Nabi s.a.w…??. Dan adakah jaminan masuk surga ketika kaum Wahabi mengucapkan pujian-pujian dan qasidah terhadap Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab cs..? bukankah itu juga bentuk dari TBC..??. Hat lana dalil ala dakwatika…..

Allahu A’lam

Menjawab Soalan Jammaah Takfiriyah


Jika bertawassul kepada Wali Allah dan kekasih Allah dalam keadaan hidup atau mati itu di anggap KAFIR dan terkena penyakit TBC maka, Abu Bakar As-siddiq, Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, Imam Syafii [semoga Allah memulyakan beliau] dan semua Ahlu Sunnah wal Jammaah beserta ummat Islam adalah MASUK NERAKA sebab mereka KAFIR dan DARAHnya HALAL untuk di tumpahkan. Lahaula wala Quwwata Illa billah… demi Allah, saya berlindung dari godaan “fulus gede” dan iming-iming surga dari Jammaah Takfiriyah yang terkutuk.

Menjawab Soalan Jammaah Takfiriyah

Pertanyaan yang sering di pertanyakan oleh kaum yang mempoles wajah Islam menjadi garang dan tidak bersahabat adalah mengenai tawassul dan syafaat. Secara global telah saya tulis bagaimana Al-quran dan Hadist menjelaskan halalnya Syafaat dan Tawassul ini. Tetapi WAHABI atau mereka yang mendaku Ahlu Sunnah wal Jammaah atau julukan kerennya adalah Jammaah Takfiriyah seringnya menyoal kebenaran tentang halalnya dua sunnah nabi tersebut dan memberi pangkat TBC [Syirik, Bid’ah, Churafat] kepada mereka yang menyakini dua sunnah nabi tersebut.

Yang menjadi perbedaan dasar antara Islam dan Jammaah Takfiriyah ini adalah adanya kehidupan setelah kematian. Inilah yang menjadi sumber perpedaan antara Islam Kaffah dan mazhab Takfiriyah ini.

Pertanyaan kuno yang sering diajukan mereka jika terbentur dengan dalil shahih dan Al-quran, lalu ketika mereka tidak mampu menjawab tentang batilnya pangkat TBC dua sunnah nabi tersebut maka pertanyaan dialihkan “bahwa yang dilarang itu adalah minta syafaat kepada mayit dan orang mati”. Jadi dalam makalah kecik ini saya berusaha menjelaskan apakah orang yang telah meninggalkan dunia ke alam akherat sementara jasad-jasad mereka telah berbaur dengan debu dan tanah itu bisa mendengar dan memberi pertolongan pada kita-kita yang masih hidup ?.

Kematian bukanlah Kebinasaan

A. Ayat

Dalam makalah ini jelasnya saya tidak masuk kedalam pembahasan filosofis tentang hakekat kematian yaitu apakah ruh saja atau jasad atau malah kedua-duanya. Tetapi saya akan membahas dari sudut pandang Al-quran dan Hadist seperti yang di inginkan oleh kelompok sempalan Islam ini. Lagian mustahil bagi mereka untuk menerima pembahasan semantara sudut pandang pembahasan adalah filosofis. Karena nalar dan akal bagi mereka ibarat hiasan batok kepala belaka. Otak yang seharusnya buat menalar dimatikan begitu saja dan di peti eskan. Dasar jahil murakkab…..!

Alla kulli hal…. Satu hal yang menjadi budaya dan dibudidayakan oleh mazhab pengkafiran ini adalah mereka tidak mau mendengar orang lain. Mereka menutup telinga rapat-rapat jika orang yang tidak semazhab berusaha ngajak dialog dan diskusi. Mereka sangat alergi dengan pendapat orang lain. Padahal hadist shahih banyak bercerita tentang di anjurkannya dan di halalkannya memungut ceceran hikmah walau keluar dari mulut kafir sekalipun [khud al hikmah walau min lisani al kafir]. Anehnya lagi, mereka memaksakan kehendak dengan sak udele dewe [keinginan pribadi] dan memberi pangkat KAFIR dan halal darahnya kalau mengingkarinya. Aneh bin ajaib, Ajib bin gharib dari Jammaah Takfiriyah ini. Ironis memang..

Islam yakin bahwa kematian bukanlah kebinasaan, akan tetapi perpindahan antara alam materi ke alam non materi. Dengan demikian maka, sekalipun jasad mereka moksa dan dimakan oleh bakteri akan tetapi tetap saja ruh mereka bisa berhubungan dengan kita. Lihat Al-quran, Allah swt dalam mensifati orang-orang saleh dalam surat Al-a’raf, ayat 78-79. Lihat juga Al-quran dalam surat Az-zuhkruf ayat 45 ketika Al-quran bercerita tentang kaum Nabi Syuaib as: “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul kami yang Telah kami utus sebelum kamu: “Adakah kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?”. Atau Al-quran surat Az-zuhkruf ayat 91-93.

Begitu pula banyak sekali kita dapati ayat ayat Al-quran yang berkenaan dengan penghormatan dan salam kepada para anbiya Allah swt. Misalnya Allah swt dalam Al-quran berfirman: “Salamun ala Nuhin fil Alamin” atau “ Salamun ala Ibrahim” atau “Salamun ala Musa wa Harun” atau “Salamun ala Aliyasiin” atau “Salamun alal Mursaliin”. Ayat ayat tersebut ternyata menjelaskan adanya hubungan antar manusia di alam materi dan non materi [Barzahk/Akherat]. Dan mereka yang di muliakan oleh Allah swt juga menjawab salam dan penghormatan kita.

Yang lebih jelas lagi adalah ayat Al-quran surat Al-baqarah, ayat 154: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup*, tetapi kamu tidak menyadarinya.{* yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu}.

Jelas sudah bagi kita ternyata hakekat kematian bukanlah kebinasaan, tetapi perpindahan dari alam materi ke alam non materi. Oleh karena itu apakah kita salah dan terkena penyakit TBC sebagaimana dakwaan Jammaah Takfiriyah, ketika kita bertabaruk dan meminta doa [bertawassul] kepada wali Allah..??? apakah ketika kita minta kepada Allah dengan perantaraan Anbiya dan wali-wali Allah swt sementara mereka adalah hidup di sisi Allah DARAH kita menjadi HALAL UNTUK DI KUCURKAN..??. La haula wala quwwata illa billah….

Ayyuhal wahabiyyuun……… anda benar dan kita terkena penyakit TBC dan layak ditumpahkan DARAH-DARAH Ahlu sunnah wal Jammaah jika yang kita jadikan perantara dalam berdoa itu adalah para thaghut, [Lihat Al-quran Surat An-nisa Ayat: 60] patung-patung [Lihat Al-quran Surat Yunus, Ayat: 18] dan para durjana semisal Ibnu Tai-Miyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.

B. Riwayat

Kalau kita rujuk kembali kitab-kitab Jammaah Takfiriyah ini, akan banyak kita dapati kelucuan dan dagelan dalam mentafsirkan kematian manusia. [Lihat Majmu’u Fatawa, Bin Baz, juz 1, Halaman 408 atau halaman 417] atau masih dalam kitab yang sama juz 2, Halaman 765.

Nasiruddin Albani alwahabi salah satu teolog mazhab takfiriyah ini berkisah dalam muqaddimah kitab “Al-ayat Al-bayyinah fi Adami simaai Al-amwat] dengan latah mengatakan moksa dan terputusnya hubungan antara yang hidup dan mayyit. Lihat Kitab “Al-ayat Al-bayyinah fi Adami simaai Al-amwat, Nu’man Alusi].

Jayyid… saya tidak akan banyak mengutip pendapat mereka tentang pengharaman bertawassul dan terkena penyakit TBC bagi mereka yang menyakini sunnah Nabi ini dari novel-novel ulama Jammaah Takfiriyah yang dijadikan sandaran mereka untuk memoles wajah Islam Hanif menjadi garang. Saya muak …!! dan muntah ketika membaca humor dagelan mereka dalam menghancurkan citra Islam Hanif di dalam buku dan novel-novel ulama mereka.

Kalau kita kembali ke Kutub Arbaah, banyak sekali kita dapati betapa Kanjeng Nabi saw pun menghalalkan dan membolehkan kita bertawassul. [Lihat Kitab Sahih Bukhari fi Kitab Janaizi fi Babi Al-mayyit]. Atau juga kitab Sahih Muslim fi Kitab Al-jannati wa Sifati naiimiha wa Ahliha. Alhadist 70-71. atau kitab Musnad Ahmad bin Hanbal [fi musnadi Abi Hurairah] juz, 2 Halaman 347-445] lihat Musnad Anas juz 3, Halaman 233.

Di dalam kitab Tarikhul Madinah Almunawarah li Ibni Syubhi fi babil janaiz, disana dijelaskan bahwa para syuhada dan anbiya menjawab salam dan permintaan kita. Sementara dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal {fi musnad Abi Huraiah} juz 2, halaman 3 di sana dengan gamblang di jelaskan bahwa Kanjeng Nabi saw menyuruh ummatnya untuk mentalqini si mayyit. Dan ajibnya hadist ini di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah didalam Riwayat At-talqin di dalam kitabnya Alfatawa Alkubra Babu Talqin Almayyit wa Jawayu Mukhatabah li Ahli Alqubur.

Apakah masih kurang banyak dalil yang saya bawakan Ayyuhal Wahabiyuun…..?.

oke saya akan tetap menuruti kehendak kalian. Saya akan tetap berusaha menuliskan dan ingat tulisan saya ini tidak sekedar Copy Paste ala Wahabiyyah, karena kalau kita teliti dengan seksama “asasan” tulisan tulisan yang di tuangkan dalam situs-situs jammaah takfiriyah semuanya adalah Copy Paste. Jelas ini menunjukkan kemadegan dalam berfikir dan berkarya, kerennya mereka bangga dengan TAKLIF BUTA dan bakal dibutakan oleh Allah swt di dunia dan akherat nanti. Dan itu pasti…!

Tulisan saya Al-hamdulilah berasal dari hasil Tahqiq dan penelitian sejati. Jika wahabi datang ke tempat kost saya maka, jangan heran jika melihat banyak kitab-kitab yang berserakan disana-sini.

Jayyid….. kita ke masalah sesunguhnya itu sekedar basa-basi NO COPY PASTE, tapi berfikir dan jangan sebarkan penyakit TBC. Satu lagi bukalah mata telinga dan jangan merasa cukup dengan yang ada.

PARA SAHABAT NABI, KHALIFAH DAN YANG BERTAWASSUL ADALAH KAFIR

Stop…. Jangan prasangka buruk dulu dengan judul diatas, judul diatas akan benar adanya jika kita mengikuti fatwa-fatwa Jammaah Takfiriyah. Loh kok bisa ..?? sangat bisa dunk….

Lihat perkataan Ahmad bin Zaini Dahlan di dalam Kitab Ad-duru As-sanniyah fi Raddi Alal Wahabiyyah cetakan Mesir, Halaman 36. Di sana di jelaskan dengan gamblang bahwa sahabat besar Kanjeng Nabi saw, Abu Bakar As-siddiq juga bertawassul kepada jasad Kanjeng Nabi saw. Atau lihat juga perkataan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu di dalam Kitab Wafaul Wafa’ lil Mashudi juz 2, Halaman 1361 riwayat dari Abi said As-samani.

Al-Imam As-syafii sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ahmad Zaini Dahlan di dalam kitabnya halaman 30, dari Allamah [Ibnu Hajar] dalam kitab As-syawaiqul Muhriqoh fi Ar-raddi ala Ahlil Bid’I wa Zindiqi, ternyata Al-Imam As-Syafii bertawassul kepada Ahlul Baith Nabi saw.

Jika bertawassul kepada Wali Allah dan kekasih Allah dalam keadaan hidup atau mati itu di anggap KAFIR dan terkena penyakit TBC maka, Abu Bakar As-siddiq, Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, Imam Syafii [semoga Allah memulyakan beliau] dan semua Ahlu Sunnah wal Jammaah beserta ummat Islam adalah MASUK NERAKA sebab mereka KAFIR dan DARAHnya HALAL untuk di tumpahkan. Lahaula wala Quwwata Illa billah… demi Allah, saya berlindung dari godaan “fulus gede” dan iming-iming surga dari Jammaah Takfiriyah yang terkutuk.

Allahu A’lam.

Genitnya Anto “Dewo” Salafy CS Dalam ber-TBC-ria: Tabarruk


Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”. Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352. dan ratusan hadist sahih yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Tapi saya siap menuliskan hadist-hadist yang sejenis ini lebih bayak lagi kalau memang di perlukan.Tulisan ini khusus untuk Anto Salafy dan Badui-badui macam Anto Salafy… Supaya lebih banyak belajar …dan memahami kearifan lokal…

Sebelum baca yang dibawah, baca ini dulu biar mantaf….

Sebelum kita mengungkap kegenitan jamaah takfiri alias wahabi atau kerennya adalah salafi/y yang gemar mengkafirkan kaum muslimin, berkaitan dengan tabarruk, alangkah baiknya kita definisikan dulu makna tabarruk, sehingga jelas bagi kita apa itu tabarruk.

Tabarruk adalah sunah rasul, dan masalah ini juga termasuk masalah yang paling dihinakan oleh kelompok Takfiri bin Wahabi alias Salafi/y. Meraka berfatwa barang siapa yang melakukan Tabarruk adalah Bid’ah dan kafir hukumnya. Lihat kitab-kitab wahabi yang isinya mencela dan mengkafirkan sesama muslimin gara-gara melakukan sunah rasul ini, yakni bertabaruk. Cek beberapa kitab ini, 1. Al-muntaqa min Fatawa As-syeikh Shaleh bin Fauzan, Juz 2, Halaman 86. 2. Majmu’u Fatawa li Ibni Atsimain, nomor fatwa 366. 3. Al-lajnah Ad-daimah lil Buhutsi Al-alamiah wal Ifta, Halaman 3019. 4. Fatawa Islamiyah, Juz 4, Halaman 29. 5. Al-bid’ah, Halaman 28-29. 6. Dalilul Ahthak, Halaman 107. Dll……….

Nama-nama kitab yang saya tulis diatas semuanya adalah kitab rujukan dan kitab fatwa kaum wahabi, salafy/i takfiri. Semuanya menyatakan bahwa bertabaruk adalah perbuatan kaum jahiliyah dan musrikin, barang siapa yang melakukan tababruk maka mereka adalah kafir…. dan kafir tempatnya di neraka.

Makna Tabarruk

Secara bahasa, Tabaruk berasal dari bahasa arab yang artinya adalah minta barakah, dan barakah disini mempunyai makna “tambah” dan pencerahan atau saadah [kebahagiaan]. Lihat Lisanul Arab, Juz 10, Halaman 390. atau Shihahul Lughah, Juz 4, Halaman 1075. atau Annihayah, Juz 1, Halaman 120.

Sementara Tabarruk secara istilah mempunyai makna, meminta barakah melalui sesuatu atau seseorang atau apapun yang diperbolehkan oleh Allah swt. Misalnya, kita mencium tangan ibu kita, atau mencium tangan bapak kita, atau mencium kuburan kanjeng nabi saw dengan tujuan minta doa dan minta barakah.

Kalimat barakah sendiri dipakai dalam Al-quran dengan berbagai lafadz dan bentuk. Terkadang makna tabaruk dipakai oleh Al-quran dipakai untuk:

1. Seseorang, Misalnya: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), Kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami.” Al-quran, Surah Hud, Ayat 48.

atau :”Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup. Surah Maryam, Ayat 31. dll

2. Tempat, : ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Surah Al-Israa’, ayat 1.

3. Waktu: “sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. Surah Ad-dhuhaan, ayat 3.

4. Untuk Waktu dan Tempat :“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Surah Ali Imran, Ayat 96.

Tabarruk dalam Sejarah

Ada pertanyaan menarik ketika kita tarik masalah tabarruk ini kedalam ruang sejarah. Apakah tabarruk itu pernah ada dalam sejarah nabi-nabi sebelum Nabi Terakhir dan sekaligus pada zaman kanjeng nabi..?. Lalu siapa saja yang pernah melakukan..?. Apa balasan bagi mereka yang melakukan tabarruk, dan apa balasan bagi yang mengingkari tabarruk..?.

Sejarah tidak bisa kita pungkiri fakta dan datanya. Sejarah adalah cermin masa depan jika kita cerdas bisa mengambil pelajaran dari sejarah. Al-quran ternyata mencatat dan menceritakan hal ini dalam kehidupan nabi-nabi yang dahulu dan zaman nabi Muhammad saw. Dan mereka tidak pernah berlepas dari tababruk.

Bukti nyata dan jelas adalah kisah yang terjadi pada nabi kita Ya’qub as. Ketika beliau berpisah dengan Nabi Yusuf as, yang dia sayangi, dan karena rasa sedih yang luar biasa dan banyaknya air-mata beliau menetes sampai-sampai Nabi Ya’qub as buta. Lalu karena seorang yang saleh, orang yang dipilih oleh Allah mempunyai karamah dan kekuatan dari Allah swt, maka nabi Ya’qub as, bertabaruk dengan baju anaknya dan atas ijin Allah swt penyakit buta beliau hilang. Lihat betapa indah Al-quran menceritakan peristiwa ini dalam Surat Yusuf: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. Surah Yusuf, Ayat 93. Dan masih banyak lagi ……

Tabarruk di Zaman Kanjeng Nabi saw

Dalam kitab Tabarruk bi Atsarir Rasul, Muhammad Thahir Makky berkata: “Bertabarruk dengan peninggalan Kanjeng Nabi saw, adalah sunah para sahabat, dan sunah ini juga dilakukan oleh Tabiin, Tabiin-tabiin dan Orang-orang saleh, mukminin pun melakukan sunah ini. Bertabaruk dengan kanjeng Nabi di zaman beliau pun juga dilakukan, sementara Kanjeng Nabi sendiri tidak mengingkarinya. Dan ini adalah bukti dan dalil bahwa Bertabaruk mendapatkan legimitasi dari Kanjeng Nabi sendiri. Lihat kitab Tabarruk bi Atsarir Rasul, Halaman 7.

Siti Aisah, pernah berkata: “Para sahabat selalu membawa anak-anaknya ke hadapan Kanjeng Nabi saw, sehingga anak-anak sahabat-sahabat Kanjeng Nabi itu mendapatkan ucapan selamat dari Kanjeng Nabi dan mendapatkan berkah beliau”. Lihat kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 7, Halaman 303, Hadist nomor 25243.

Muawiyah ketika menjelang kematiannya berwasiat kepada familinya untuk mempersiapkan baju, celana, dan sedikit dari rambut Kanjeng Nabi saw supaya dikubur bersamanya. Lihat kitab Asiratul Alhalbiyah, Juz 3, halaman 109. Al-Asabah, Juz 3, Halaman 400, Tarikh Damsyiq, Juz 59, Halaman 229.

Ummu Qais ketika mempunyai anak kecil dan belum makan apa-apa kecuali susu ibunya, selalu membawa anaknya ke hadapan Rasulullah saw supaya mendapatkan berkah beliau. Oleh beliau anak itu dipangkunya. Lihat Shahih Bukhari, Juz 1, Halaman 62, Kitabul Ghusli.

Imam Malik bin Anas berkata: “Saya melihat Kanjeng Nabi saw sedang mencukur rambut kepala beliau dan terlihat kepala beliau yang penuh barakah itu bercahaya, sementara para sahabat berthawaf mengelilingi Kanjeng Nabi saw dan ketika beberapa helai rambut beliau jatuh, mereka berebutan dan mengambilnya”. Lihat kitab Shahih Muslim, Juz 15, Halaman 83. Kitab Musnad Ahmad, Juz 3, Halaman 591.

Dan ratusan hadist sahih yang menceritakan bahwa para sahabat juga bertabarruk. Dan saya cukupkan hanya disini saja, kalau kurang nanti saya akan bawakan yang lebih banyak lagi………

Tabarruk di Zaman Sahabat

Dalam masalah tabbruk di zaman Sahabat dan Tabiin, saya hanya menuliskan beberapa hadist saja, kalau ada yang kurang saya siap membawakan yang lebih banyak lagi.

Misalnya, Shafiyah berkata: “Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”. Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352. dan ratusan hadist sahih yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Tapi saya siap menuliskan hadist-hadist yang sejenis ini lebih bayak lagi kalau memang di perlukan.

Pandangan Ibnu Taimiyah Masalah Tabarruk

Bagi mereka yang mengagungkan dan mendewakan ibnu taimiyah, saya sarankan untuk mengecek kitab yang saya tulis dibawah ini, sebab Ibnu Taimiyah sendiri disatu sisi membolehkan tabarruk, dan saya yakin mereka yang mengharamkan Tabarruk secara mutlaq adalah BAHLUL….!! Dan TAKLID BUTA…!! [cuhhhh..!!].

Antosalafy dan abu-abu bahlul itu, hakekat wujudnya adalah bencana bagi Islam dan Umat manusia..!!. lihat kitab Iqtidhaus Siratul Mustaqim, Halaman 367…!!!, Ibnu Taimiyah berkata: “Ahmad bin Hanbal dan orang selain dia, membolehkan kepada manusia untuk bertabarruk dengan cara mengusapkan tangannya ke minbar dan tempat tangan Rasulullah saw!. Dan mengusap kubur Rasulullah untuk bertabarruk, tidak diperbolehkan..!, Akan tetapi, sebagian dari sahabat-sahabat kita meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal bahwa mengusap kubur Rasulullah adalah diperbolehkan!.” ..!!. lihat kitab Iqtidhaus Siratul Mustaqim, Halaman 367.

Sampai detik ini ……. saya berkesimpulan bahwa, mereka yang berkoar-koar menegakkan Tauhid Allah hakekatnya adalah para pembohong dan preman berkedok agama. Mereka adalah para pendekar TAKFIRI yang haus darah umat manusia.

Dan saya tahu .…ada golongan dan mereka yang benar-benar memanusiakan manusia meskipun mereka mengaku salafy/I, nah untuk mereka-mereka, ini saya minta maaf. Adapaun tulisan ini, saya khususkan buat preman-preman yang mengagumi badui-badui jahili arab. Dan mereka yang gemar mengkafirkan umat manusia, semacam antosalafy, abusalmah, abuturotsi, abdurahman dll yang haus darah..!![]

Waspadai Radikalisme Wahabisme…!


Setelah era reformasi mereka lebih berani tampil ke permukaan secara terang-terangan. Bagi sebagian kalangan, kemunculannya dianggap mengkhawatirkan, bukan semata-mata karena perbedaan ideologis, tetapi lantaran sebagian di antaranya menggunakan cara-cara kekerasan memperjuangkan aspirasinya. Kekerasan di sini tak hanya dalam arti fisik, tetapi juga kekerasan wacana yang terekspresi melalui kecenderungan mereka yang dengan mudah mengeluarkan fatwa murtad, kafir, syirik, dan semacamnya bahkan kepada sesama Muslim.

Tulisan cantik ini bisa dilirik pada situs ini. Hanya saja judulnya saya ganti.

GP-ANSOR. BAJU radikalisme dan fundamentalisme yang dipakai atas nama Islam oleh kelompok tertentu menjadi ‘boomerang’ bagi umat Islam sendiri. Di Indonesia, kedua aliran itu telah menggejala baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Fenomena demikian menyebabkan kekhawatiran berbagai kalangan masyarakat, sebab alur pemikiran semacam itu telah merasuki anak-anak, pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah ulama dan kiai Nahdlatul Ulama pantas saja mengkhawatirkan fenomena itu, meskipun sebenarnya radikalisme dan fundamentalisme beragama tak hanya berlaku bagi agama Islam. Tapi untuk merespons dan mengantisipasi gejala yang berkembang, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, perlu menggelar bahtsul masail diniyyah yang diadakan di Ponpes Al-Qur’aniyy Azzayadiyy, Solo, belum lama. Diantaranya, fenomena radikalisme dan fundamentalisme dengan baju agama yang dinilai paling krusial.

Kalaupun secara luas telah diketahui, bahwa NU memang bukan organisasi muslim yang mendasarkan pemahaman keagamaan pada pandangan yang radikal maupun fundamentalisme. Namun demikian para ulama NU merasa perlu untuk membahasnya dan merumuskan pemikirannya agar dapat dijadikan acuan bagi umat. Rencananya, keputusan itu akan diusulkan untuk dibahas di forum Munas NU.

Jika kembali membaca sejarah Indonesia, sejak tahun 1940-an sampai 1950-an, memang sudah ada persaingan antara kalangan Islamis dengan kalangan demokratis. Menurut Greg Barton gejala ini bukan sesuatu yang baru, dan tidak mungkin dihilangkan dengan sendirinya.

Jamaah Islamiyah misalnya, disebut sebagai sayap yang paling radikal dari yang ada saat ini, juga memiliki hubungan dengan gerakan lama lewat jalur keluarga dan sebagainya. Adapun faktor kultural ternyata juga ikut menentukan, sebagai contoh peristiwa yang terjadi pada diri Gus Dur di Purwakarta, dapat diketahui bahwa kawasan itu memang cenderung lebih konservatif dan radikal dalam ekspresi beragamanya.

Sementara gagasan Islam yang radikal, dalam konteks global baru muncul sejak tahun 1940-an lewat buku-buku al-Maududi, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, ditambah lagi dengan ide-ide Wahabisme yang sudah lama. Sedangkan pengaruh Islam di tingkat global dan ide-ide Islam modern, muncul sekitar abad ke 20-an . Jadi radikalisme harus dilihat juga dalam konteks dunia modern. Begitu pula, faktor politik dan environment atau lingkungan global sangat menentukan, karena isu-isu dan kondisi umat Islam di berbagai tempat, memang jauh lebih gampang menyentuh hatinya.

Iran dan Mesir sebagai dua negara yang dianggap paling inspiratif dalam melahirkan Islam radikal di negara-negara lain. Fenomena revolusi Islam Iran 1979 dianggap banyak pengamat sebagai salah satu bentuk radikalisme Islam yang kemudian mengilhami kaum Muslim di banyak negara melakukan hal serupa. Sementara itu, di Mesir lahirnya al-Ikhwan al-Muslimun yang dibidani oleh Syaikh Hasan Al-Banna (1906-1949) pada April 1928 mengalami perkembangan pesat yang ditandai oleh tersebarnya organisasi ini di kurang lebih 70 negara, tidak hanya di Timur Tengah tapi juga di wilayah lain.

Pengaruh keagamaan dan politik dari Timur Tengah ke Indonesia bukan hal baru dalam sejarah. Semenjak Islam masuk ke Nusantara, hubungan masyarakat Indonesia dengan Timur Tengah sangat kental. Dalam konteks keagamaan, pengetahuan, dan politik, transmisi ini dimungkinkan karena posisi Timur Tengah sebagai sentrum yang selalu menjadi rujukan umat Islam.

Momok ekstrem kanan yang dulu begitu diwaspadai oleh Orde Baru kini hilang dari kamus politik Indonesia. Kelompok Islam radikal memang berhasil “ditumpas” rezim Orde Baru pada tahun 1980-an. Namun, dalam waktu hampir bersamaan generasi di bawahnya diam-diam membangun jaringan di kampus-kampus.

Kemudian disusul dengan munculnya kelompok-kelompok pengajian kampus pada akhir 1980-an yang terkenal dengan sebutan “kelompok tarbiyah,” melalui kelompok inilah transmisi Islam radikal di Timur Tengah berkembang di Indonesia, khususnya di kampus-kampus umum.

Setelah era reformasi mereka lebih berani tampil ke permukaan secara terang-terangan. Bagi sebagian kalangan, kemunculannya dianggap mengkhawatirkan, bukan semata-mata karena perbedaan ideologis, tetapi lantaran sebagian di antaranya menggunakan cara-cara kekerasan memperjuangkan aspirasinya. Kekerasan di sini tak hanya dalam arti fisik, tetapi juga kekerasan wacana yang terekspresi melalui kecenderungan mereka yang dengan mudah mengeluarkan fatwa murtad, kafir, syirik, dan semacamnya bahkan kepada sesama Muslim.

Kita sadari bahwa Indonesia adalah negara plural yang terdiri dari beragam suku, ras, agama, budaya yang berbeda-beda tapi tetap satu Indonesia. Pluralisme yang menjadi ciri bangsa dan Negara Indonesia ini, semestinya diimbangi dengan demokratisasi yang kuat sehingga tidak menimbulkan gejolak baru yang berkembang. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin seyogyanya dimaknai oleh penganutnya dengan penuh keramahan, kedamaian, dan kasih sayang. Bukan sebaliknya, seolah-olah Islam menjadi sesuatu yang mengerikan, menyeramkan, dan menakutkan bagi umat lain, sehingga performen keseluruhan umat Islam pun turut terpengaruh.

Arogansi, kepongahan, serta kecongkakan yang mementingkan keinginan kelompoknya masing-masing adalah benih dari sebuah bentuk radikalisme. Karena itu, di era global sekarang ini wajah seram semacam itu, tak boleh lagi tumbuh berkembang. Wallahua’lam.

Wahabi/Salafy/i Bicara Tauhid: Tidak Mentakwil[?]


Misalnya dalam catatan harian Ibnu Taimiyah yang dikasih lebel Alminhaju Assunnah dikatakan bahwa Allah swt yang maha suci itu diumpamakan seperti seorang manusia [Maha Suci Allah dengan Segala FirmanNYA] yang turun ke bumi disaat malam gelap dan naik ke singasana disaat fajar subuh menyingsing. Sebagaimana hadist yang katanya sahih yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah swt turun ke bumi setiap malam, dan kembali ke singasananya saat subuh.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa masalah tauhid dalam Islam masalah yang sangat urgen dan penting. Dan ini juga disepakati oleh semua agama samawi dari Nabi Adam as sampai Nabi terakhir Kanjeng Nabi, Muhammad saw. Karena urgen dan pentingya masalah ini, maka Allah swt mengirim utusannya untuk menyampaikan perkara yang satu ini. Saking pentingnya pula, ukuran keimanan seseorang bisa dilihat dari keyakinan dia dengan tuhannya. Dan ini berkaitan erat dengan yang namanya At-Tauhid.

Wahabi/Salafy/i, untuk selanjutnya kita sebut wahabi saja, punya dongeng tersendiri dalam memaknai tauhid. Katanya sekte wahabi memahami dan mengartikan makna tauhid ini datangnya bukan dari otak mereka sendiri tetapi berasal dari fatwa-fatwa ulama-ulama takfiri mereka. Dakwaan mereka, rujukan utama ulama-ulama itu dalam memahai perkara tauhid adalah dengan kembali ke Al-quran dan Sunah Nabi dengan tetap melihat makna Dhahir ayat tanpa takwil. Well…. Kalau yang ini semua ulama sepakat bahwa dalam masalah meng-Esa-kan Allah memang kita harus kembali merujuk ke Al-quran dan Sunah Nabi. Karena inilah satu-satunya jalan untuk men-Esa-kan Allah swt. Lalu…. dengan takwil..?.

So what..?? dalam masalah rujuk merujuk, kita Ahlu Sunah wal Jamaah sepakat dengan wahabi ini. Akan tetapi kalau kita sedikit berfikir dan menalar kembali makna Tauhid ala dongeng wahabi yang tertulis dalam buku-buku rujukan utama mereka, maka bisa dipastikan detak dan denyut nadi kita bertambah keras. Pemaknaan tauhid yang katanya bersumberkan pada Al-quran dan Sunah Nabi tanpa embel-embel pentakwilan justru merekalah jago takwil dan takwilan mereka menjauhkan makna tauhid itu sendiri. Dan kalau kita mau tegas lagi, Ibnu Taimiyah dan wahabiv cs inilah sebenarnya pemicu utama orang seperti Salman Rusdi untuk merusak hadist dan Al-quran dengan menulis novel ayat-ayat syetan. Karena memang apa yang dituliskan oleh salman rusdi sama persis dengan logika Ibnu Taimiyah cs. Loh…. Kok bisa…. Jelas bisa dunk….. mau bukti….?.

Saat menulis makalah ini di depan saya ada beberapa kitab rujukan dan ringkasan novel ayat-ayat syetan salman rusdi hasil pinjaman teman-teman satu kost. Kitab rujukan tulisan dedengkot jamaah takfiri ala wahabi memang saya pilah-pilah dan hanya memfokuskan pada satu titik permasalahan yaitu masalah tauhid. Misalnya dalam kitab Majmuatur Rasaili Alkubra, Alfatawa Alkubra, Alminhaju Assunnah oleh Ibnu Taimiyah dan Muhtasar Assyawaiqi Mursalah oleh Ibnu Qayyim serta bung Bin Baz dalam coretan hariannya yang berjudul Al-akidatus Shahihah wa Nawaqidhul Islam.

Misalnya dalam catatan harian Ibnu Taimiyah yang dikasih lebel Alminhaju Assunnah dikatakan bahwa Allah swt yang maha suci itu diumpamakan seperti seorang manusia [Maha Suci Allah dengan Segala FirmanNYA] yang turun ke bumi disaat malam gelap dan naik ke singasana disaat fajar subuh menyingsing. Sebagaimana hadist yang katanya sahih yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah swt turun ke bumi setiap malam, dan kembali ke singasananya saat subuh,. Karena hadist itu dianggap sahih maka, mengikutinya adalah wajib. Lagi-lagi Syeikh jenius ini pula melengkapi klaim kebenaran hadist diatas dengan menukil ayat Al-quran sebagaimana Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy… (al-A’raaf: 54 dan Yunus: 3) lalu, Allah juga berfirman:”Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy …. (Ar-Ra’d: 2) dan: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy…(al-Furqan: 59). Dan banyak lagi ayat-ayat suci Al-quran yang serupa. Maha Suci Allah dengan Segala Firmannya. Untuk jelasnya supaya merujuk kembali makalah saya sebelumnya Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang Al-quran.

Pandangan Ibnu Taimiyah yang demikian itu persis seperti yang diceritakan oleh Ibnu Hajar Asqalani dan Ibnu Bathutoh. Ibnu Bathutoh berkata: “Di Damsyiq ada seorang ulama fiqih dari mazhab Hanbali, dia bernama Taqiuddin Ibnu Taimiyah. Setiap yang dia bicarakan selalu ilmiah, akan tetapi dia mempunyai masalah dalam penalarannya [akalnya]. Saat saya di Damsyiq, waktu itu hari Jum’at. Saya dan dia bersamaan masuk ke masjid. Di mimbar masjid Jami dia memberikan ceramah dan mauidhoh kepada masyarakat. Salah satu mauidhoh yang dia katakan adalah seperti ini: “Allah swt dari langit turun ke bumi seperti saya turun dari minbar [Ibnu Taimiyah turun dari mimbar]”. Inilah yang dia katakan sambil turun dari mimbar. Cek kitab Rehlatu Ibnu Bathutoh, Halaman 95, dan Kitab Addararu Alkaaminah, oleh Ibnu Hajar Asqalani, Juz 1, Halaman 154.

Mari kita diskusikan lagi kebenaran hadist yang dibawakan oleh Ibnu Taimiyah dalam menjustifikasi kebenaran Tauhid ala wahabiyah. Kalau hadist diatas itu sahih, fabiha ni’mah lil wahabiyyin tapi kalau hadist itu salah, fabiha niqmah wal adzab lil wahabiyyin.

Pertama, malam adalah tidak adanya cahaya matahari yang menyinari bumi karena cahaya itu terhalangi oleh bulan [mungkin yang lain bisa njelasin dan ngajarin mereka tentang perpuran galaksi sehingga terjadi siang dan malam]. Dan siang adalah dimana cahaya matahari tidak tertutupi oleh bulan. Jika dikatakan bahwa Allah swt turun ke bumi saat gelap [malam] maka pada saat yang sama ditempat adanya cahaya matahari [siang] Allah tidak ada.

Supaya lebih jelas, bisa diasumsikan begini, kalau di Indonesia itu gelap [malam] maka saat itu, Allah swt berada di kawasan Indonesia karena Allah swt turun dari singasanaNya, dan pada saat yang sama dibelahan dunia yang disinari cahaya misalnya Saudi Arabia [wahabi akan orgasme kalau kita sebut nama Saudi Arabiyah] maka ada kekosongan akan Allah swt, karena saat itu Allah sedang berada di tempat gelap [malam].

Dengan demikian maka hadist diatas adalah lemah alias bohong bin bikinan. Kalau percaya sama hadist ini maka dialah sang bahlul itu. Karena turunnya Allah swt kebumi tergantung adanya gelap [malam], dan selama itu pula singasana Allah swt di langit selamanya akan kosong dari Allh swt. Dan seandainya kita menerima bahwa hadist itu adalah benar, maka pertama-tama yang kita lakukan adalah mentakwil hadist tersebut dan mencari korelasi antara hadist lain dan ayat-ayat Al-quran lainnya, sebab banyak hadist dan ayat-ayat Al-quran yang mutasyabih, ”Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184] sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Malik bin Anas. Cek kitab Mir’atul Jinan lil Yafi’i hadist tahun 588, tarjamah oleh Shohibul Mizan. Namun, karena wahabiyun buta mata hantinya maka, takwil hadist dan ayat tidak bakalan diterimanya.

Padahal banyak dari ayat-ayat Al-quran yang Allah swt sendiri men-Tauhid-kan diriNYA dimana ruang dan tempat tidak berarti dihadapan Allah swt. Misalnya surat Al-baqarah ayat 115, Alah swt berfirman: “…maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah…..atau Allah berfirman :”….. dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya..” atau :”….. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”…. “, dan banyak sekali ayat-ayat Al-quran yang perlu takwil untuk mentafsirkannya.

Yang aneh lagi adalah bahwa Ibnu Taimiyah dan kawan-kawan tidak menerima takwil ayat, karena semua ayat Al-quran dianggap sudah jelas. Tetapi kalau kita baca lagi tafsir Imam Sufyan ats-Tsauri berkenaan dengan ayat: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘arsy. Dia Maha Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (al-Hadiid: 4) “…..DIA BERSAMA KALIAN….” justru ditakwilkanya dengan “Dia bersama kalian yakni dengan ilmunya” lihat kitab Asma’ wa sifat, hal. 341 oleh Baihaqi kitab.

Lalu dikatakan pula oleh Ibnu Taimiyah: “Dhahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah [BERSAMA] sesuai dengan konteksnya yakni memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian dll. [sof…. lihat..lagi-lagi Ibnu Taimiyah juga berusaha mentakwil dengan konteks lain] lihat kitab Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, juz V hal. 103. Dikatakan itu pula makna dhahir ayat yang sebenarnya dari ayat tersebut adalah demikian dan ini bukan takwil ayat dalih mereka.

Apakah ada hukum Al-quran dan Sunah yang menyatakan bahwa kebersamaan itu selalunya memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui?. Apakah ada..?. Maka sejatinya ibnu taimiyah sebenarnya juga mentakwil makna ayat tanpa dia sadari karena dia ingin dianggap beda dengan Ahlu Sunah wal Jamaah.

Bukti takwil makna kebersamaan dengan ilmuNYA adalah ayat Al-quran: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al-Baqarah: 186)

Makna “Kedekatan” juga ditakwil dengan makna para malaikat yang diperintahkan-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf: 16). Disini Syaikh Utsaimin mentakwilkan makna “DEKAT” pada kalimat di atas adalah dengan para malaikat yang diperintahkan-Nya. Lihat kitab Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin

Lalu takwil makna “DEKAT” dengan kematian. Demikian pula dalam firman-Nya: “Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (al-Waqiaah:85)”. Makna ‘kedekatan’ dalam ayat ini adalah berkaitan dengan kematian kilahnya. Lagi-lagi dia berusaha mentakwil lagi, Karena itu dalam makna dekat dalam ayat diatas adalah adalah para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ayat sebelumnya membahas tentang kematian, yang tentunya Allah memerintahkan kepada malaikat pencabut nyawa. Jadi, yang dimaksud ‘dekat’ di sini adalah malaikat yang diperintahkan-Nya. Lihat kitab Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin, hal. 120. Apakah ini bukan Takwil..???

Dan banyak lagi takwil ayat yang dilakukan oleh wahabiyah yang katanya barangsiapa mentakwil Al-quran adalah kafir, ternyata mereka beramai-ramai menjerumuskan dirinya kelubang kekufuran yang diciptakan sendiri.[]

[Bersambung] InsyaAllah kita akan kupas masalah Tauhid dan bagian-bagiannya.

Rujukan:

  1. Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, Edisi: 51/Th. II, 16 Muharram 1426 H/25 Februari 2005 M

  2. Majmuatu Arrasaili Alkubro, Ibnu Taimiyah / Risalatul Wasiyyah Alkubro dan kitab Asshawaigul Almursalah, Ibnu Qayyim bab Tsubutul Intiqal wal Kharakah

  3. Muhtasar Assawaigul Mursalah, cetakan Beirut tahun 1405 HQ.

  4. Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin

  5. Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, juz V hal. 103

  6. kitab Rehlatu Ibnu Bathutoh, Halaman 95, dan Kitab Addararu Alkaaminah, oleh Ibnu Hajar Asqalani, Juz 1, Halaman 154.

  7. Asma’ wa sifat, hal. 341 oleh Baihaqi kitab