Rabu, 08 Juli 2009

Melacak Intervensi Amerika dalam Pilpres


Operasi intelijen Amerika Serikat rekayasa kemenangan calon presiden negara lain yang dianggap bersahabat dengan pemerintahan Gedung Putih di Washington, nampaknya bukan sekadar rekaan belaka. Buktinya Departemen Luar Negeri Iran baru-baru ini melayangkan nota protes kepada Kedutaan Besar Amerika dan negara-negara Uni Eropa.

Operasi intelijen Amerika Serikat rekayasa kemenangan calon presiden negara lain yang dianggap bersahabat dengan pemerintahan Gedung Putih di Washington, nampaknya bukan sekadar rekaan belaka. Buktinya Departemen Luar Negeri Iran baru-baru ini melayangkan nota protes kepada Kedutaan Besar Amerika dan negara-negara Uni Eropa. Karena pihak berwenang Iran rupanya menditeksi bahwa gelombang protes yang dilakukan oleh para pendukung Capres Mir Husen Musavi mendapat dukungan diam-diam dari beberpaa elemen asing di Teheran.

Iran memang sudah sewajarnya untuk waspada terhadap operasi intelijen ala CIA Amerika tersebut. Pada Agustus 1953, CIA yang ketika itu menugaskan Kermit (Kim) Roosevelt, sebagai koordinator operasi di Teheran, untuk menggulingkan Perdana Menteri Mossadegh yang oleh Amerika dianggap berhaluan nasionalis, dan bermaksud untuk menasionalisasikan seluruh perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Iran, khususnya yang bergerak dalam sektor minyak.

Seperti yang secara panjang lebar sempat kami tulis di situs ini beberapa waktu yang lalu, operasi intelijen menggusur Mossadegh diberi nama Operasi Ajax. Caranya, dengan menggalang dukungan militer di lapisan tengah komando. Artinya, CIA tidak segan-segan untuk menciptakan perpecahan di internal angkatan bersenjata Iran itu sendiri, bahkan mengkondisikan terjadinya pemberontokan beberapa perwira bawahan terhadap atasanya.

Itulah yang dilakukan oleh pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Jenderal Zahedi sehingga atasannya, Kepala Staf Keamanan kabinet Jenderal Taghi Riahi, yang sebenarnya sudah mengetahui adanya rencana kudeta CIA yang dirancang Kim Roosevelt, pada akhirnya justru ditelikung dari belakang Jenderal Zahedi dan anak buahnya yang notabene merupakan bawahan Jenderal Taghi Riahi di jajaran komando kemiliteran.

Keberanian Jenderal Zahedi rupanya didorong oleh Kim Roosevelt, yang mengkoordinasikan seluruh operasi intelijen melawan Mossadegh yang ketika itu secara de fakto merupakan penguasa politik Iran menyusul tergusurnya Shah Iran oleh gerakan Mossadegh. Jadi, operasi Ajax sebenarnya bertujuan memulihkan kembali rezim Shah Iran ke tampuk kekuasaan.

Maka disusunlah beberapa langkah strategis yang dirancang CIA. Pertama, melalui kantor berita Associated Press, diwartakan bahwa Shah Iran telah mengeluarkan dekrit memberhentikan Mossadegh sebagai perdana menteri, dan pada saat yang sama mengangkat Jenderal Zahedi sebagai penggantinya.

Ketika Perdana Menteri Mossadegh yang tidak direstui oleh Shah Iran dan Amerika itu mulai mabuk kemenangan dan merasa dalam posisi cukup kuat, Kim Roosevelt mendorong Jenderal Zahedi membentuk Dewan Perang dan mulai melancarkan serangan terbuka kepada Mossadegh pada 19 Agustus 1853. Caranya, dengan menggalang dukungan dari beberapa komandan batalyon untuk bergabung dalam kudeta menggulingkan Mossadegh.

Namun lebih dari pada itu, rupanya berita yang tersebar di berbagai media massa luar negeri berkenaan dengan dekrit Shah Iran dari tempat pengasingannnya di Itali, telah memicu gelombang dukungan di dalam negeri Iran itu sendiri. Sehingga membuka peluang CIA untuk menunggangi gelombang dukungan terhadap kembalinya Shah Iran.

Maka, gerakan anti Mossadegh pun kembali mendapatkan momentum untuk berkobar kembali. Padahal sebenarnya CIA sudah bermaksud untuk menghentikan operasi Ajax pada 18 Agusutus 1953.

Aksi massa pro Shah Iran akhirnnya berhasil dimanfaatkan oleh pasukan militer yang berada dalam kendali Jenderal Zahedi, dan kemudian mengumumkan keberhasilan kudeta dan membacakan dekrit kerajaan melalui stasiun radio Iran. Tak lama kemudian, Jenderal Zahedi mengambil-alih kekuasaan dan Perdana Menteri Mossadegh akhirnya menyerah.

Partai Tudeh dan Musavi

Jika ada yang berpandangan bahwa Mir Husein Musavi adalah antek Amerika, nampaknya masuk akal juga. Sewaktu Ayatullah Khomeini berhasil menggulingkan Shah Iran pada 1979, Abu Hasan Bani Sadr dan Musavi berada di belakang Khomeini. Bani Sadr, sedari awal memang seorang intelektual didikan Perancis berhaluan Sosialis Demokrat. Namun Musavi, sebernya punya latarbelakang yang sedikut misterius. Mengingat hubungannya yang erat dengan Partai Tudeh yang berhaluan kiri.

Bahkan pada 1953, ketika Mossadegh digulingkan, Partai Tudeh dikenal sebagai partai berhaluan kiri yang berambisi meraih kekuasaan melalui jalan revolusi. Dan dalam skema inilah Musavi sebernarnya muncul dari haribaan Partai Tudeh. Alhasil, sewaktu Khomeini berhasil mengkonsolidasikan pemerintahan Islam Iran yang didominasi Islam Syiah, makaq Bani Sadr dan Musavi terpaksa harus lari ke luar negeri menghindari penangkapan pemerintahah Mullah pimpinan Khomeini.

Fakta ini semakin logis ketika pada 1953, dalam rencana operasi intelijen Amerika dan Inggris menggulingkan Mossadegh, CIA ternyata menggalang pasukan gerilyawan dari Partai Tudeh. Ironis memang, Amerika yang notabene anti komunis justru menggunakan elemen-elemen sayap kiri Iran untuk menggulingkan pemerintahan Mossadegh yang dituduh Amerika sebagai berhaluan ultra-nasionalis, kiri radikal dan pro Moskow.

Namun politik terkadang menggunakan segala cara, apalagi ketika operasi Ajax pada dasarnya ditujukan untuk memulihkan hak-hak perusahaan-perusahaan Inggris Anglo Iranian Oil Company.

Sebagai imbalan dari keberhasilan kudeta terhadap Mossadegh tersebut, beberapa perusahaan multinasional asing berhasil mendapatkan lisensi untuk beroperasi di Iran. Antara lain Royal Dutch Shell, Francaise des Petroles, dan lima perusahaan minyak Amerika.

Dari fakta ini terbukti, bahwa aktor intelektual di balik skema operasi semacam ini adalah Inggris. Dan Amerika sebagai pelaku utama alias Project Officer dari operasi Ajax.

Operasi CIA Gulingkan Rezim Juan Arbenz dari Guatemala

Setahun kemudian, tepatnya 1954, CIA yang ketika itu masih dalamkendali Allen Dulles, dengan diinspirasi oleh keberhasilan menggulingkan Mossadegh di Iran, mulai menyusun rencana mengkudeta Juan Arbenz yang dituduh Amerika sebagai berhaluan kiri dan pro Uni Soviet.

Maka seperti juga halnya di Iran, CIA kemudian membina seorang perwira menengah, bernama Kolonel Castilo Armas, untuk menjadi ujung tombak dari suatu kudeta militer menggulingkan Arbenz. Lagi-lagi, operasi ini berhasil dengan sukses, maka tampillah Kolonel Armas sebagai penguasa politik baru di Guatemala yang berhaluan kanan dan pro Amerika.

Gerakan CIA Menggoyang Chavez

Kalau dua kasus terdahulu terjadi di era 1950-an, kasus yang terjadi Venezuela ini justru terjadi sekitar 2007 lalu. Ceritanya begini. Karena Hugo Chavez dinilai Amerika sebagai presiden yang bermusuhan kepada pemerintahan Bush, maka disusunlah operasi intelijen menggoyang Chavez dengan cara mendukung kelompok oposisi menolak referendum konstitusi yang diajukan Chavez.

Alhasil, situasi politik di Venezuela praktis terpecah dua antara yang mendukung dan menolak referendum konstitusi. Inilah situasi yang kemudian diolah dan dimanfaatkan oleh CIA untuk menyusun Operasi Tenaza atau Operasi Pincer, yang intinya menggagalkan referendum konstitusi.

Operasi intelijen Amerika ini nampaknya dipimpin oleh pejabat kedutaan besar Amerika di Venezuela Michael Middleton Steere. Tidak jelas apakah ini nama sebernarnya atau hanya julukan belaka. Yang jelas, CIA menggunakan taktik klasik yaitu dengan menggalang dukungan militer dari dalam jajaran komando kemileteran itu sendiri. Maklum, karena Chavez sendiri ternyata mendapat dukungan lumayan kuat dari beberapa perwira tinggi angkatan udara, perwira menengah dan beberapa jenderal.

Bagi Indonesia yang sering mengalami kelangkaan bahan-bahan pokok alias Sembako secara tiba-tiba, sebaiknya menyadari bahwa taktik semacam ini rupanyan sering dilakukan CIA. Di Venezuela, rupanya CIA menyusun skenario kelangkaan bahan-bahan pokok sehingga memicu instabilitas politik dan memunculkan citra buruk bagi Presiden Chavez.

Tapi rupanya CIA tidak puas dengan cara-cara seperti itu. Taktik lain yang digunakan juga tak kalah kotor. Yaitu dengan memberikan suara menolak referendum dengan menggunakan kertas palsu. Sekaligus menerapkan praktek Maling teriak Maling. Yaitu dengan menyerang petugas referendeum dan propaganda dengan tuduhan pihak pemerintah telah melakukan pemalsuan perolehan suara pendukung referendum konstitutsi.

Referendum Konstitusi ini memang mencemaskan bagi Amerika karena dalam referendum yang diusulkan tersebut memberikan kewenangan kepada presiden mengontrol bank sentral, membentuk provinsi-provinsi baru yang diperintah oleh pejabat yang diangkat oleh pemerintah pusat, dan diturunkannya usia pemilih dari 18 menjadi 16.

Selain itu, referendum konstitusi juga memihak kepentingan kaum buruh dan pekerja. Misalnya dengan menetapkan jam kerja maksimum enam jam per hari dan 36 jam per minggu dan memperluas tunjangan keamanan sosial ke para pekerja di sektor ekonomi informal.

Sayang sekali, berkat dukungan dana yang besar dari Amerika melalui operasi CIA terhadap berbagai elemen oposisi Venezuela, referendum konstitusi yang ditawarkan Chavez berhasil digagalkan dengan angka tipis 4.504.354 suara menolak (50,70%) versus 4.379.392(49.29%).

Hanya saja, beruntung bagi Chavez karena meski kalah dalam referendum, namun kekuasaan tetap berada di tangan Chavez. Sehingga perjuangan dirinya untuk mewujudkan revolusi sosialisme tetap bisa dilanjutkan melalui sarana-sarana lain. Setidaknya Chavez masih punya banyak waktu sampai kekuasaannya berakhir pada 2013 mendatang.

Relevansinya bagi Indonesia

Indonesia, 8 Juli mendatang, akan mengadakan Pemilihan Presiden secara langsung. Setelah mempelajari berbagai modus operandi CIA dan berbagai elemen oposisi yang didukung Amerika terutama dalam kasus Iran dan Venezuela, sudah semestinya Indonesia waspada terhadap skenario yang mungkin akan dimainkan CIA maupun M-16 dalam pemilihan presiden 8 Juli mendatang.

Apalagi fakta membuktikan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika tetap didominasi oleh kalangan konservatif yang tidak bersahabat dengan negara-negara sedang berkembang yang berpenduduk Islam cukup besar, seperti Indonesia.

Apalagi beberapa pakar Amerika baik dari Ohio maupun Yale University yang sekarang melakukan tugas-tugas terselubung dengan berkedok penelitian, sudah berada di Indonesia sekitar beberapa bulan terakhir.

Mereka ini, menurut berbagai informasi yang berhasil dihimpun Global Future Institute, mempunyai kontak-kontak dan jaringan kerjasama dengan unit intelijen dan riset (INR) Departemen Luar Negeri Amerika. Beberapa agennya, dikenal sebagai Indonesianis.

Menyadari kenyataan tersebut, kita di Indonesia sudah seharusnya melakukan antisipasi terhadap skenario Amerika dalam menanggapi hasil pemilihan presiden jika hasilnya nanti tidak sesuai dengan keinginan atau agenda Amerika.

Karena itu, skenario Amerika untuk mendukung elem pro Amerika seperti yang dilakukan dengan mendukung Musavi di Iran, bukan tidak mungkin akan dilakukan di Indonesia.

(Ditulis oleh Hendrajit, Penulis adalah Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI))

Iran Siap Balas Setiap Serangan Musuh

Boroujerdi
Boroujerdi
Iran siap untuk mengambil aksi "nyata dan menentukan" apabila Israel menyerang fasilitas nuklirnya. Pernyataan ini disampaikan oleh Alaeddin Boroujerdi, kepala komite parlemen Iran untuk kebijakan luar negeri dan keamanan nasional, Senin (6/7). Pernyataan Alaeddin Boroujerdi disampaikan setelah Wakil Presiden AS Joe Biden mengisyaratkan Washington tidak akan ikut campur untuk menangkal kemungkinan serangan militer Israel ke Iran.
"Baik AS dan Israel sadar akan konsekuensi dari keputusan yang keliru itu," tegas Boroujerdi kepada beberapa wartawan di Kedutaan Besar Iran di Tokyo.

"Saya yakin respons kami nyata dan menentukan," kata Broujerdi tanpa merinci maksud pernyataannya itu.

Israel khawatir Iran tengah mengembangkan persenjataan nuklir untuk ditargetkan ke negara Yahudi itu. Sementara Iran membantah pihaknya berupaya mengembangkan persenjataan dengan dalih bahwa nuklir yang dikembangkannya ditujukan guna membangkitkan energi.

Pemerintah Israel telah menjelaskan keinginannya untuk menghentikan program nuklir Iran melalui diplomasi. Namun, Israel tidak menampik kemungkinan menggunakan serangan militer apabila upayanya itu tidak berhasil.

Dalam wawancaranya dalam program ABC, This Week, Ahad kemarin, Biden ditanya apakah AS akan melakukan intervensi apabila Israel memutuskan melancarkan serangan militer.

"Lihat, kami tidak dapat mendikte apa yang negara berdaulat lain dapat lakukan dan tidak dapat lakukan," jawab Biden.

Broujerdi juga mempertahankan aksi pemerintahannya yang menindak tegas terhadap para perusuh menyusul pilpres Iran belum lama ini.

Mir Hossein Mousavi dan Karroubi mengatakan, pemilu 12 Juni lalu yang dimenangkan presiden Mahmoud Ahmajinejad tidak sah dan penuh dengan kecurangan.

Boroujerdi mengatakan polisi Iran hanya bertindak untuk memulihkan keadaan menyusul kerusuhan and aksi protes yang dinilainya dipicu oleh Mousavi.

"Tidak ada kekacauan, (sekarang) ini adalah situasi benar-benar damai di Iran," katanya.

Selasa, 16 Juni 2009

Pilpres Iran yang Penuh Warna


Pilpres Iran yang Penuh Warna
Tanggal 12 Juni kemarin, warga Iran kembali memberi kejutan. Tak kurang dari 85% pemilih memberikan suaranya. Artinya, sekitar 40 juta orang dari 46 juta warga sudi mengantri berjam-jam untuk memberikan suara. Komisi Penyelenggara Pemilu sampai harus menambah tenggat penutupan TPS beberapa jam lagi, lantaran berjubelnya warga yang hendak berpartisipasi.
Tapi, bagi Prof. Mahdi Khourshad, kejutan yang sebenarnya bukan di situ. Lahirnya kepemimpinan generasi kedua revolusi yang menantang atau mengoreksi kepemimpinan generasi pertama—itulah kejutan terbesar. Dan tak seperti kebanyakan revolusi lain, regenerasi di Iran itu berlangsung mendebarkan melalui proses yang demokratis. Inilah salah satu dari sekian “keganjilan” revolusi Islam Iran yang barangkali belum ada bandingannya.
Seperti sudah kita ketahui, Mahmoud Ahmadinejad adalah presiden Iran pertama yang tidak termasuk dalam lingkaran dekat Imam Khomeini, sang pemimpin revolusi Islam Iran 1979. Dia datang nun jauh dari luar elit politik yang telah berkuasa sejak 1979 hingga 2004 silam. Dia tidak bermain dengan jargon kiri dan kanan, konservatif dan reformis, ulama dan intelektual. Dia bahkan secara khusus tidak disukai oleh sebagian besar keluarga Imam Khomeini yang memang bertalian darah dengan tokoh reformis Khatami. Pendeknya, dia adalah nobody di blantika perpolitikan Iran sebelum tahun 2003.
Tak heran apabila politisi-cum-milyuner-cum-ulama paling berpengaruh di Iran, Hashemi Rafsanjani, mengirim surat pada rekannya Raja Arab Saudi bahwa pemerintahan Ahmadinejad akan terguling dalam enam bulan. Rafsanjani mengirim surat itu sesaat setelah Ahmadinejad terpilih sebagai presiden tahun 2005. Kalkulasi politik Rafsanjani berdasar pada minimnya rekam jejak Ahmadinejad dalam politik, sehingga di puncak sana secara perlahan dan alamiah dia akan mengalami kemakzulan.
Tapi Rafsanjani keliru besar. Ahmadinejad memang tak mengenal dan tak mau akrab dengan elit. Selama kepemimpinannya, dia terus berkubang di tengah rakyat, menjejalkan diri di antara warga miskin dan menjadi presiden paling banyak mengunjungi desa-desa terpencil Iran. Popularitasnya meroket seiring berjalannya waktu, lantaran model kepimpinan Ahmadinejad yang bersajaha, trengginas, cerdas, kerja keras dan sebagainya. Ciri-ciri inilah yang membuatnya menjadi sangat kontras dengan Rafsanjani, Khatami, Moussavi, Karroubi, Nateq Nuri dan sebagainya yang terkesan aristokratik.
Upaya rival-rival Ahmadinejad untuk membawa-bawa slogan kedekatan dengan Imam Khomeini sedikit berdampak. Keluarga Imam Khomeini yang secara terang-terangan mendukung Moussavi pun tak digubris oleh puluhan juta rakyat Iran. Seolah rakyat Iran bisa membedakan Khomeini dengan keluarga Khomeini—sebuah kemewahan rasional yang jarang dimiliki oleh rakyat-rakyat lain di dunia ketiga.
Kejutan lain dari pemilu kali ini adalah kehadiran saksi tiap-tiap kandidat di semua TPS. Kementerian Dalam Negeri telah memfasilitasi kehadiran saksi-saksi tersebut untuk mengawasi proses pemungutan maupun penghitungan suara.
Kejutan lain yang tak kalah menariknya ialah penayangan program debat capres di televisi nasional. Debat capres yang berlangsung keras, sengit dan kontroversial itu setidaknya menyedot 40-an juta penonton. Malah, banyak yang memperkirakan bahwa debat antara Ahmadinejad dan Moussavi pada 2 Juni lalu menyedot 50 juta penonton.
Dalam debat terbuka itulah Ahmadinejad melancarkan serangannya terhadap Rafsanjani yang dianggap sebagai dalang di balik semua kandidat lain, terutama Moussavi. Ahmadinejad menuduh Rafsanjani sebagai dalang permainan politik elit yang korup, amoral, berpindah-pindah muka dari ultra konservatif menjadi ultra reformis dan sebagainya. Ahmadinejad menganggap bahwa permainan Rafsanjani dan Khatami itu tak menguntungkan rakyat dan merusak cita-cita revolusi Islam Iran.
“Untuk apa membawa-bawa kedekatan kalian dengan Imam Khomeini,” serang Ahmadinejad pada Rafsanjani, Khatami dan Moussavi, “kalau tak satu pun ciri beliau ada pada kalian. Kedekatan kalian pada waktu itu tak berlaku saat ini, karena ukuran yang sebenarnya adalah apa yang terjadi hari ini.”
Pilpres kali ini juga mengguncang relasi-relasi kekuasaan yang telah lama terjalin. Misalnya, relasi kubu Rafsanjani, Khatami dan keluarga Imam Khomeini dengan Khamenei di satu sisi dan relasi Rafsanjani dengan kelompok revolusioner di sisi lain. Saat Ahmadinejad menyerang keras Rafsanjani, Khatami, Nateq Nuri dan elit kekuasaan yang ditengarai dekat dengan Khamenei di depan publik, Rafsanjani menulis surat pada Khamenei. Dalam surat itu, Rafsanjani meminta Khamenei selaku pemimpin tertinggi Iran untuk menindak tegas dan menegur Ahmadinejad “demi terjaganya persatuan dan kedamaian”.
Tapi Khamenei tak bergeming. Rafsanjani kemudian mendatangi Khamenei dua hari menjelang piplres. Selepas pertemuan itu, satusan ribu pesan singkat menyebar ke pelbagai lapisan masyarakat bahwa Khamenei menyesalkan sikap dan perilaku Ahmadinejad. Kubu Ahmadinejad berang. Permainan politik Rafsanjani, terutama langkahnya membawa Khamenei dalam kancah politik praktis, dianggap sebagai preseden yang sangat berbahaya.
Menanggapi gosip-gosip itu, setelah memasukkan suaranya di bilik, Khamenei mengadakan konferensi pers. Di situ dia mendustakan semua gosip yang beredar lewat sms itu. Dia juga meminta semua pihak waspada akan permainan politik yang licik dan merusak. Dia justru meminta semua warga memberikan suara berdasarkan pilihan bebasnya tanpa tekanan dari siapapun.
Keberhasilan Ahmadinejad memperoleh 24 dari 39 juta suara adalah pertanda babak baru dari cerita panjang revolusi Islam Iran. Barangkali inilah awal dari revolusi ketiga yang diusung Ahmadinejad 4 tahun silam—sebuah revolusi yang menjanjikan koreksi dan revisi. Pada pidato kemenangannya di hadapan ratusan ribu warga Teheran, Ahmadinjead berseru, “Kenapa kalian tidak senang saya menjadi presiden di Iran? Apakah karena saya orang miskin dan bertampang dusun? Buat saya, istana-istana kalian tidak lebih berharga daripada sehelai rambut jutaan orang miskin di negeri ini?”
Boleh jadi juga hasil pilpres itu menandakan high call rakyat Iran atas tawaran Presiden AS Barack Obama. Seperti terungkap dalam laporan utama Newsweek edisi Mei 09, bangsa Iran sejatinya adalah kaum saudagar (bazari) yang suka melakukan tawar menawar dalam posisi yang kuat.

Ahmadinejad Menang, Israel Senang??? apa nggak salah tuh !!!!

Ahmadinejad Menang, Israel Senang?

Seorang pejabat Israel, akhir pekan lalu, mengakui ada konsensus diantara sejawatnya di Jerusalem bahwa kemenangan Mahmoud Ahmadijenad dalam Pemilu Iran justru menguntungkan posisi (pemerintahan ekstrem kanan) Israel.
“Pandangan ekstrem dan seruannya bagi penghancuran Iran telah memaksa masyarakat internasional untuk menghadang program nuklir Iran,” kata pejabat yang tak disebutkan namanya itu seperti dikutip The Australian.
Kemenangan tokoh moderat Mir Hossein Mousavi tak akan menghentikan program nuklir Iran sehinga hanya meninabobokan masyarakat internasional bahwa Iran sudah tidak mengancam lagi.
Ahmadinajad menjadi musuh utama Israel karena berulangkali menyeru penghapusan Israel dari peta dunia dan menyangkal “holocaust” (genosida terhadap etnis Yahudi pada Perang Dunia Kedua).
Dia juga menuduh Israal menghukum Palestina atas apa yang dilakukan Jerman terhadap Yahudi selama Perang Dunia Kedua, dan meminta Eropa memindahkan Israel ke benua itu.
Ironisnya sikap keras Ahmadinejad ini memberi alasan kepada Israel untuk mengajak dunia guna terus menyudutkan dan mengucilkan Iran. Lebih dari itu, terpilihnya Ahmadinejad memberi keuntungan strategis bagi Israel karena kebijakan dan pernyataannya justru menjadi informasi berharga bagi Israel.
“Tak ada seorang pun yang melayani program informasi (intelijen) Israel yang lebih baik darinya (Ahmadinejad),” tulis kolumnis Harian Ma’ariv, Ben Caspi.
Israel percaya yang menjadi penguasa riil di Iran adalah Pemimpin Spiritual Ayatollah Ali Khamenei dan sekelompok ulama senior Iran.
“Dari sudut pandang operasional, tak ada perbedaan siapapun yang menang (di Iran). Tapi dari sudut pandang intelijen, Ahmadinejad adalah hal terbaik yang menguntungkan kita,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Israel yang mengkhususkan diri mempelajari Iran.
Pernyataan serupa disampaikan kepala meja sunting Iran di Radio Israel, Menashe Amir, yang menyatakan tidak ada perbedaan mendasar antara keempat kandidat dalam Pilpres Iran.
“Perbedaannya adalah pada gaya berbicaranya. Ahmadinejad blak-blakan, sementara yang lain menyembunyikan pemikiran mereka yang sebenarnya lewat kata-kata indah. Setidaknya omongan Ahmadinejad menunjukkan apa yang dipikirkannya. Saya sangat senang dia terpilih kembali,” kata Amir.
Alasan lain yang membuat Israel berharap Ahmadinejad menang adalah bahwa kemenangannya akan membuat kaum muda Iran bangkit melawan kaum ulama yang adalah kekuatan nyata dibalik Ahmadinejad.
Gerakan kaum muda Iran ini bahkan dilihat Israel lebih hebat dibandingkan peristiwa tahun 1997 yang mengantarkan ulama reformis Mohammad Khatami naik ke singgasana kekuasaan.
Israel percaya jika Ahmadinejad dipilih lagi, apalagi jika dituduh telah berbuat curang, maka Iran akan bergejolak.
Para pejabat pertahanan Israel mencatat peringatan seorang tokoh sentral di Garda Republik bahwa pasukannya bakal menghadapi “revolusi beludru” dari para pendukung Mousavi yang kekuatannya setara dengan demonstrasi jalanan yang meruntuhkan pemerintahan (komunis) Cekoslovakia pada 1989.
Israel juga khawatir, kemenangan Mousavi akan membuat Washington berdamai dengan Teheran dan mengizinkan Iran membangun reaktor-reaktor nuklir untuk tujuan damai seperti diisyaratkan Presiden Obama dalam pidatonya di Kairo awal bulan ini. Keadaan ini sama sekali tak diinginkan Israel.
Ironisnya, bangsa Israel menghormati Iran. Kedua negara tak berbatasan langsung dan tak pernah terlibat perang, meskipun Republik Islam Iran aktif menyokong Hizbullah dan Palestina.
Israel tahu, Iran adalah negara muslim dengan penduduk Yahudi terbesar di dunia, menjamin orang Yahudi bebas beribadat, bahkan membolehkan wakil Yahudi duduk di Parlemen.
Banyak orang Yahudi pernah tinggal di Iran, diantaranya seorang mantan Kepala Staf Angkatan Udara dan seorang mantan presiden.
Neo konservatif
Sikap sebagian kalangan di Israel itu diekspresikan pula oleh kelompok neokonservatif sayap kanan AS yang menyebut kemenangan Ahmadinejad telah memberi alasan kepada AS untuk terus mengkerasi Iran.
Direktur Middle East Forum Daniel Pipes, pada sebuah pidato di Heritage Foundation, bahkan terang-terangan akan memilih Ahmadinejad jika saja dia menjadi pemilih dalam Pemilu Iran.
Sementara Michael Rubin dari American Enterprise Institute mengaku lebih baik Ahmadinejadlah yang menang karena itu akan membuat diplomasi Obama gagal di Iran.
“Pemerintah Obama berharap tokoh yang lebih lembut dan agak patuh seperti Mousavi menang, karena akan lebih mudah bagi Obama untuk mempercayai Iran benar-benar telah melunak,” kata Rubin.
Pemikir neokonservatif lainnya, Martin Peretz menulis di New Republic bahwa dia sudah mengetahui sejak lama bahwa para pemimpin terpilih di Iran sebenarnya tidak akan terlalu berkuasa. -ant/kf-
Sumber: The Australian dan The Huffington Post
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/16/ahmadinejad-menang-israel-senang/

Jumat, 12 Juni 2009

supaya tidak mudah tersinggung.......

Tersinggung Ya

Pagi tadi saya sempat melerai sopir angkot dan seorang pengendar motor yang akan berkelahi, karena supir angkot tersinggung dengan ucapan sang pengendara motor yang mengeluarkan kata-kata kotor kepada sang supir anggkot. Tanpa disadari kita sebagai manusia dalam hubungan interaksi sosial dengan sesama manusia kita sering merasa tersinggung baik itu sengaja ataupun tidak sengaja. banyak akibat dari rasa tersinggung itu; ada yang marah, sedih, kecewa, bahkan ada yang dendam. Banyak tindakan kekerasan juga lahir karena rasa tersinggung. Jadi hati-hati dengan yang namanya "tersinggung" itu.

Karena kita adalah mahkluk sosial yang butuh berinteraksi dengan orang lain,tentu saja terjadi singgung-singgungan yang tidak selamanya menyenangkan. Hati yang bisa merasakan sakit dan tersinggung oleh orang lain hanya karena kata-kata saja.Aku pikir setiap manusia pasti pernah tersinggung. Entah karena ucapan,sikap atau tingkah laku orang lain.Bahkan hanya gara-gara ditatap saja bisa menyebabkan hati tersinggung, Kita kerap tersinggung oleh hal kecil.

Orang yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung adalah orang yang sangat lemah. Kadar ketersinggungan apalagi didominasi perasaanitu pun sudah menunjukkan kelemahan mental manusia, apalagi saat kita meresponnya dengan menyinggung balik. Dua kelemahan yang mudah terjadi pada diri kita. Saat amarah datang, kelemahan mental manusia semakin menjadi. Penting Anda ingat saat-saat seperti itu ketika seseorang memperlakukan anda dengan tidak baik, saat itu kita mungkin berbelas kasih pada rasa amarah, berbuat justru yang merugikan diri sendiri, sehingga kondisi kita menjadi semakin tidak menguntungkan. Jadi kuncinya adalah mengendalikan kondisi kita dan oleh karenanya mengendalikan prilaku kita.

Banyak yang berpenampilan indah tetapi terhina, sebab dia tidak punya kesabaran, banyak orang yang akhirnya rugi padahal dia punya modal apa sebabnya karena dia tidak punya kesabaran. ketika kita merasa tersinggung dan tindakan yang diluar rasional kita yang kita lakukan apa yang terjadi, hanya kepuasan mental sesat yang kita dapat, tetapi selanjutnya hanya sebuah penyesalan abadi yang akan kita terima. Kisah tersinggung pun banya dimuat dikoran, contoh karena tersinggung ayah membunuh anaknya, karena tersinggung sahabat membantai sekeluarga sahabat temanya. karena tersinggung seorang bocah memperkosa temannya. dan banyak lagi.

apa yang harus kita lakukan untuk tidak mudah tersingung

1. Jaga Kata-kata mu... sesuatu yang mungkin terkesan biasa. Mungkin kadang-kadang terkesan tiada artinya. Hanya basa basi tetapi bisa dimaknai lain oleh lawan bicara kita, sering dari sebuah percandaan karena salah berucap membuat orang merasa tersinggung dan terjadilah sebuah perkelahian. ingat bahwa berkata-kata itu penting dan krusial Melalui kata2 kamu bisa memotivasi seseorang. Melalui kata-kata itu juga pula kamu bisa menghancurkan hidup seseorang.

2. Sabar dan Tidak Mudah Marah
Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

3. Belajar Memaafkan
Cobalah jadi orang pemaaf, karena orang pemaaf itu akan hidup dalam kedamaian, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kulitas diri , dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan

4. Cobalah Saling menghargai
ketersinggungan diri dapat terjadi karena diri kita merasa di lecehkan, atau direndahkahn, untuk menghindarinya cobalah saling menghargai, kita pasti ingin dihargai bukan, cobalah untuk menghargai orang lain seperti anda ingin dihargai orang lain hal ini dapat mencegah anda atau orang lain tersinggung.

sakit hati yang disebabkan karena tersinggungjauh lebih berbahaya dari sekedar penyakit hati hepatitis. Resiko fatal dari hepatitis adalah kematian buat sipenderita. Tapi kalau sakit hati karena tersinggung bisa menyebabkan kematian orang lain,teman bahkan saudara sendiri.

yah memang ketersinggung diri berawal dari hati, kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita. yang menyebabkan orang tersinggung karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa sukses atau merasa memiliki drajat lebih dari orang lain. Tapi harus diingat bahwa manusia adalah sama.

"Janganlah Lemparkan sebutir batu pada permukaan danau yang tenang. Sekejap ia akan menimbulkan riak-riak gelombang. jangan menyinggung perasaan orang lain akan menghasilkan sebuah pertengkaran atau minimal rasa sakit hati pada orang lain"

"Jangan suka menyinggung orang, kalau tidak mau disinggung"

Doa dari Keranjang Tempe

Doa dari Keranjang Tempe

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, tempat tinggal seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai menyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.

"Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. " demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi.......deg !! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, ditengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh.

Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut.

"Keajaiban Tuhan akan datang....pasti, " yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "kehendak" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.

"Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, airmata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi?

Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Allah telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan.

Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat. Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.

"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??" Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ...."

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "Jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ...."

"Bagaimana Bu ? Apa ibu menjual tempe setengah jadi ?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca ?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi ! "Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"

"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu ?"

Sahabatku, ini kisah yang biasa bukan ? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa.....dan "memaksakan" agar .....Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna..

Senin, 08 Juni 2009

Hasil Polling: Ahmadinejad Masih Teratas





capress
Capress Iran
Dalam debat kandidat yang dilakukan secara live oleh televisi chanel 3 Iran, keempat kandidat presiden Iran telah menunjukkan kesiapannya untuk memenangkan pemilu. Mereka juga siap untuk mengungkapkan semua aset pribadi mereka ke kehakiman.

Mahmoud Ahmadinejad saat debat dengan Mehdi Karroubi hari Sabtu, 7/6/09 meminta kepada semua kandidat untuk mengungkapkan asset dan kekayaan pribadi. Permintaan Ahmadinejad ini disambut oleh keempat kandidat.
Salah satu pernyataan Ahmadinejad saat debat dengan Mehdi Karroubi adalah supaya setiap kandidat mengungkapkan asset pribadi dan kekayaannya kepada masyarakat.

Gholam Hossein Karbaschi, ketua umum tim sukses Karroubi di Teheran mengatakan, siap untuk membeberkan semua asset dan kekayaan pribadi Karroubi. "Semua anggota tim sukses Karroubi siap hadir dalam membeberkan daftar asset dan kekayaan pribadi, asalkan daftar asset yang merefisi bukan dari pemerintah, karena pemerintah tidak memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan itu," ujar Karbaschi, seperti di rilis dalam situs Tabnak.

Untuk itu Karbaschi merekomendasikan kepada badan independen untuk memeriksa aset dan kekayaan pribadi setiap kandidat. Masih menurut Karbaschi, komite yang dibentuk harus melakukan refisi kekayaan kandidat dihadapan perwakilan independen dari semua empat calon presiden.

Gholam Hoosein Karbaschi adalah tim kepala tim sukses Karroubi yang saat menjabat sebagai walikota Teheran pernah tersandung korupsi di jamannya Khatami.

Sementara itu, Mir-Hossein Mousavi, mantan perdana mentri yang juga mendapat dukungan Hashemi Rafsanjani, Khatami juga telah siap untuk mengumumkan asset dan kekayaan pribadinya.

Jamshid Ansari, penasehat Mousavi mengatakan, "Sebagian besar orang tahu Bapak Mousavi mempunyai asset dan kekayaan pribadi , sebagian kekayaan dan aset yang dimiliki oleh Bapak Mousavi sebagian untuk mendanai kampanye oleh karena itu, kami tak dapat menyiapkan daftar asset dan kekayaannya dalam waktu empat bulan. Untuk meverifikasi harta kekayaan Mousavi, Ansari meminta kepada kehakiman untuk merefisi asset dan kekayaan calon presiden dan dalam jangka waktu singkat. Tandas Ansari

Sekretaris umum dari Partai Keadilan dan Pembangunan Abdolhossein Rouholamini juga menyatakan kesiapannya untuk mengumumkan asset dan kekayaan Mohsen Rezaei.

Pemilihan presiden Iran kesepuluh ini dijadwalkan akan berlangsung Jumat 12 Juni 2009. Dari hasil polling dan jajak pendapat yang dilakukan oleh tebyan dan kayhan, Ahmadinejad masih calon terkuat dan menempati urutan pertama dari setiap poliing pasca debat dengan Mousavi. Dan urutan kedua Mir-Hossein Mousavi yang sebelum diadakan debat capres menempati urutan pertama.