Rabu, 20 Mei 2009

Hillary Clinton dan Skenario Balkanisasi NKRI

Menteri Luar Negeri baru Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton berkunjung ke Jakarta bulan Februari lalu, begitu dahsyat antusiasme kalangan elit politik Indonesia menyambut istri mantan presiden AS tersebut. Sampai-sampai mengundang decak kagum luar biasa, hatta masyarakat awam sekalipun. Jelas kunjungan itu sangat istimewa mengingat Indonesia adalah Negara muslim yang pertama yang di kunjungi Hillary.
Bintang Kejora
Bendera bintang kejora berkibar tepat di jantung Inggris
Yang patut di intip adalah bahwa, mantan isteri Presiden Amerika Bill Clinton itu tidak sekadar datang dan mengadakan pertemuan dengan presiden beserta para menteri di Jakarta lalu pulang. Melainkan juga menjalin serangkaian pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat seperti para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat seperti yang digelar di Gedung Perpustakaan Nasional.

Ini memang sebuah model dan gaya dari strategi Diplomasi Publik yang diterapkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika bahkan sejak era kepresidenan George W. Bush. Hanya saja, kebijakan luar negeri Bush yang memprioritaskan pada pendekatan militeristik yang ofensif terhaap berbagai negara berkembang, terutama negara-negara berpenduduk Islam, semantara Obama lebih mengedepankan pada gaya dan strategi diplomasi Publik. Dan inilah yang tengah diperagakan oleh Hillary ketika melawat ke Indonesia Februari lalu. Untuk itulah Hillary selalu antusias dan menyempatkan hadir dalam acara-acara “dolanan”, hiburan musik dll yang tidak selayaknya seorang utusan Negara super power ikut menyaksikan bahkan menontonnya.

Skema dan kebijakan strategis pemerintahan Obama pasca Bush ini harus dicermati secara seksama. Justru latarbelakang Obama yang pernah mukim di Indonesia, secara sadar atau tidak bisa dimanfaatkan sebagai intrumen psikologis untuk menaklukkan ego para elit politik di pemerintahan maupun DPR.

Hillary Clinton bulan Februari lalu telah kunjung ke Indonesia, namun, apakah ada perubahan secara fundamental dari sisi motivasi Amerika sebagai kekuatan global yang bertujuan menguasai dunia? Sampai detik ini, belum ada perubahan yang berarti alias sama saja.

Tidak percaya? Dalam kampanye Obama, meski dia secara tegas akan menarik mundur pasukan Amerika dari Irak, tapi lucunya Obama malah mendesak agar jumlah pasukan Amerika di Afghanistan malah diperbanyak.

Ada apa di balik opsi yang diambil Obama tersebut? Tak sulit menjawabnya. Afghanistan tidak saja berbatasan dengan Pakistan yang selama ini berada dalam pengaruh Amerika baik dari segi politik maupun militer, tapi pada saat yang sama Afghanistan adalah negara yang secara langsung bisa mengakses negara-negara Asia Selatan yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet. Seperti Khazakstan, Uzbekistan, Kirgistan, dan lain sebagainya. Selain itu Afghanistan adalah Negara yang berbatasan langsung dengan Iran.

Artinya, meski Obama dan Clinton memilih pendekatan non-militer dalam menarik simpati dan dukungan negara-negara berkembang termasuk Indonesia, namun cukup jelas bagi mereka seperti kasus di Afghanistan, Obama dan Clinton tidaklah jauh berbeda dengan Bush Kecil dan Condy.

Kepentingan Strategis AS di Indonesia
Dengan cara pandang tadi, maka lawatan Menlu Clinton ke Jakarta Februari lalu pastilah sarat dengan kepentingan dan strategis. Meski dalam pernyataannya setelah bertemu Menlu Hassan Wirajuda Menlu Clinton memuji praktek demokrasi di Indonesia, namun yang tersirat adalah sebuah peringatan dan warning bagi Indonesia supaya jangan sekali-kali mempunyai keinginan untuk merubah. Tetaplah pada pola yang ada saat ini. Tetaplah pada setingan Amerika. Inilah pesan yang disampaikan oleh Clinton ke SBY waktu itu.

Di sinilah sisi rawan dari platform politik pemerintahan Obama. Dengan jargon demokrasi dan penegakan HAM sebagai isu sentral, maka masalah masa depan Aceh dan Papua bisa menjadi duri dalam daging bagi hubungan Indonesia-Amerika ke depan.

Apalagi sebuah badan riset dan pengembangan strategis di Amerika bernama Rand Corporation, yang dikenal sering melayani secara akademis kepentingan Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) dan atas dukungan dana dari Pentagon, internasionalisasi Aceh ternyata masih merupakan isu sentral dan agenda mereka hingga sekarang.
Bahkan dalam scenario building yang mereka gambarkan, wilayah Indonesia harus dipecah menjadi delapan bagian.

Sekadar informasi, rekomendasi Rand Corporation ihwal memecah Indonesia jadi 8 bagian tersebut dikeluarkan pada tahun 1998. Artinya, pada masa ketika Presiden Clinton masih menjabat sebagai presiden. Berarti rekomendasi Rand Corporation atas sepengetahuan dan sepersetujuan Presiden Clinton dan Pentagon.

Dengan demikian, menjadi cukup beralasan bahwa rekomendasi Rand Corporation tersebut akan dijadikan opsi oleh Obama. Karena rekomendasi Rand Corporation dikeluarkan ketika suami Hillary masih berkuasa.

Apa yang diinginkan oleh Pentagon dari skenario Rand Corporation Clinton..? itu Artinya, skenario ”Balkanisasi Nusantara” menjadi opsi yang logis untuk diterapkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika di era Obama dan Hillary Clinton.

Dalam skenario Balkanisasi ini, akan ada beberapa negara yang terpisah dari NKRI. Yang sudah terpisah Yaitu Timor Timur yang terjadi pada 1999 masa pemerinthana Habibie. Lalu Aceh, sepertinya sedang dalam proses dan berpotensi untuk pecah melalui “sandiwara” MoU Helsinki dan kemungkinan ( telah ) menangnya Partai Lokal di Aceh pada Pemilu 2009 tahun ini. Kemudian Ambon, Irian Jaya, Kalimantan Timur, Riau, Bali. Dan sisanya tetap Indonesia.

Anggap saja skenario ini memang sudah ditetapkan oleh pemerintahan Obama, maka besar kemungkinan skenario ini akan dijalankan Amerika tidak dengan menggunakan aksi militer.

Dalam skema ini, Diplomasi Publik Menlu Clinton akan menjadi elemen yang paling efektif untuk menjalankan skenario Balkanisasi Nusantara tersebut.

Dengan kata lain, mengakomodasi dan menginternasionalisasi masalah Aceh atau Irian Jaya, akan dipandang oleh Amerika sebagai bagian dari gerakan demokrasi dan penegakan HAM.

Dalam kaitan ini pula, Uni Eropa memang sejauh ini memang sudah menjadi pemain sentral di Aceh pasca MoU Helsinki. Misalnya saja Pieter Feith, Juha Christensen sementara dari persekutuan Inggris, Australia dan Amerika, mengandalkan pemain sentralnya pada Dr Damien Kingsbury dan Anthoni Zinni.

Mereka semua ini dirancang sebagai agen-agen lapangan yang tujuannya adalah memainkan peran sebagai mediator ketika skenario jalan buntu terjadi antara pihak pemerintah Indonesia dan gerakan separatis. Ketika itulah mereka-mereka ini menjadi aktor-aktor utama dari skenario internasionalisasi Aceh, Irian Jaya, dan daerah-daerah lainnya yang berpotensi untuk memisahkan diri dari NKRI.

Motivasi para penentu kebijakan luar negeri Amerika memang bisa dimengerti. Karena dengan lepasnya daerah-daerah tersebut, Amerika bisa mengakses langsung kepada para elite daerah tanpa harus berurusan dengan pemerintahan di Jakarta seperti sekarang ini.

Dorongan untuk memperoleh daerah pengaruh nampaknya memang bukan monopoli kepresidenan Bush. Obama pun pada hakekatnya bertujuan sama meski dengan metode yang berbeda.

Baik Bush maupun Obama agaknya menyadari bahwa konstalasi negara-negara di kawasan Amerika Latin yang notabene merupakan daerah halaman belakang mereka, ternyata semakin sulit untuk dikontrol. Dan bahkan berpotensi menjadi negara musuh Amerika.

Perkembangan terkini adalah menangnya calon presiden El Salvador yang berhaluan sosialis Mauricio Funes. Ekuador yang sekarang dipimpin oleh Presiden Rafael Correa seorang sosialis yang mengagendakan perlunya revolusi dalam ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Luis Inacio Lula dari Brazil yang memprioritaskan pengamanan energi, Evo Morales dari Bolivia yang menekankan programnya pada nasionalisasi industri gas, pertambangan dan kehutanan. Serta pengembalian tanah rakyat kepada petani miskin, perlindungan warga Indian, dan sebagainya.

Beberapa presiden Amerika Latin yang berhaluan kiri-tengah adalah Presiden Chilie Michele Bachelet dan Presiden Peru Alan Garcia. Dan di atas itu semua, Hugo Chavez dari Venezuela yang belakangan perseteruannya dengam Amerika semakin menajam justru ketika Amerika dipimpin Obama yang lebih moderat dari Bush.

Perkembangan beruntun di Amerika Latin tersebut tentu saja mencemaskan Amerika, meski sebagai negara kecil tidak perlu dikhawatirkan secara kemiliteran. Namun ketika negara-negara tersebut tidak lagi kooperatif baik secara politik maupun ekonomi, jelas hal ini sangatlah mengganggu.

Apalagi ketika hal itu kemudian memicu kedekatan negara-negara latin tersebut kepada Cina, Rusia, Korea Utara, Iran dan lain sebagainya.

Maka waspadalah……. !!.

Rabu, 13 Mei 2009

ASIS: Dinas Intelijen dan Pasukan Khusus Australia

Asis Logo
Logo ASIS
Awalnya, ASIS bermula sebagai badan intelijen pemerintahan kerajaan Inggris. Yang bertanggungjawab mengumpulkan informasi intelijen dari luar negeri, melakukan tugas-tugas kontra intelijen dan menjalin kerjasama intelijen dengan negara-negara lain.

ASIS pada perkembangannyan memiliki kedudukan yang sama dengan CIA dari Amerika dan Secret Intelligence Agencies (M16) milik Inggris. Sesuia perundang-undangan, ASIS memfokuskan diri pada operasi intelijen luar negeri.

Inilah yang membedakan ASIS dengan Australian Security Intelligence Organization (ASIO). Sehingga secara oganisasional, ASIS berada di bawah kendali Departemen Perdangan dan Luar Negeri (DFAT) yang bermarkas di Canberra.

Sebagai organisasi intelijen yang berada dalam komando Menteri Luar Negeri, ASIS sempat diberitakan pernah merekrut agen intelijend dari universitas-universitas yang ada di Australia untuk kepentingan mengawasi kegiatan spionase yang terjadi di Asia.

Peran ASIS di Irian Jaya
Selain Aceh, Irian Jaya merupakan provinsi Indonesia yang berpotensi besar untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekitar 1989 sampai 1991, ASIS melakukan sebuah penelitian terperinci dalam rangka tugas dan kegiatannya di Papua Nugini.

Ini ada kaitannya dengan keterlibatan ASIS dalam pelatihan pasukan di Papua Nugini. Sebuah pelatihan yang konon kabarnya dimaksudkan untuk memberikan dukungan terhadap gerakan kemerdekaan Irian Jaya dari tangan Indonesia dan Bougainvile dari Kepulauan Salomon Utara.

Pada tahun 1997, misi ASIS di Irian Jaya gagal. Meski operasi tersebut dinyatakan gagal, namun bukan berarti Australia akan berhenti begitu saja melepaskan permasalahan Irian Jaya.

Apalagi belakangan santer terdengar kabar bahwa pasukan khusus Australia berada di dekat perbatasan Irian Jaya dan Papua Nugini untuk melatih pasukan negara tetangga yang berbatasan dengan Indonesia.

Oleh karena itu, pihak TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN) seharusnya waspada dan mengambil tindakan preventif. Apalagi ketika Australia beberapa minggu lalu mencanangkan peningkatan kekuatan militer baik darat, laut dan udara secara besar-besaran. Dan disadari atau tidak, keberadaan ASIS di Irian Jaya merupakan ancaman bagi keutuhan NKRI.

4th Battalion Royal Australian Regiment
Satuan ini merupakan pasukan elit atau pasukan khusus Australia yang tergabung dalam Australian Special Operations Command. Pasukan ini mulai terbentuk sejak 18 Januari 1952.

Pasukan ini berkemampuan multifungsi sebagai kekuatan penghancur, dalam peperangan hingga pengawal medis.

Pasukan ini tugas utamanya ketika era perang dingin adalah untuk melatih dan mengirimkan personil infanteri ke Korea Utara, ketika Amerika dan sekutu ketika membantu secara militer pasukan Korea Selatan melawan Korea Utara yang didukung oleh Cina.

Sejak Maret 1960, unit ini digabung dengan sekolah infanteri sebagai depot Company Royal Australian Regiment.

Unit inilah yang merupakan tulang punggung batalyon angkatan darat Australia yang mengadakan seleksi calon anggotanya selama satu bulan.

Beberapa aspek yang menjadi bahan latihan antara lain:
1. Special Forces
2. Special Forces Roping
3. Amphibious Operations.
4. Demolitions
5. Special Forces Parachute Operation
6. ACQB (Advance Close Quarter Battle)
7. Special Force heavy weapons.

Pasukan inilah yang di kirim oleh pemerintah Australia ke Irak.
Meski dikirim ke Irak dalam jumlah kecil, 4th battalion Royal Australian Regiment ini bisa menggambarkan kekuatan dan kemampuan pasukan khusus Angkatan Darat Australia selama fase pertama operasi Baghdad Assist digelar.

Dengan kata lain, unit ini sudah cukup untuk menggambarkan kekuatan Angkatan Darat Australia yang sesungguhnya. Sejak 1982, pasukan khusus ini dirubah menjadi pasukan setingkat brigade yang berada dalam kendali komando pasukan Divisi Utama.

Selasa, 05 Mei 2009

Abu Ammar Al-Baghdadi Wahhabi, Otak Aksi Terror di Iraq

Abu Ammar Al-Baghdadi
Abu Ammar: Pemimpin Al Qaedah Iraq
Situs berita Farsnews yang dinukil oleh Islammuhammadi hari ini Rabu, 29/04/2009, melaporkan bahwa panglima angkatan bersenjata Iraq Qashim Atha dalam konferensi dengan press mengatakan pihak militer Iraq telah menyebarluaskan foto pemimpin Al Qaedah Iraq, Abu Ammar Al-Baqdadi yang bermazahab Wahhabi Salafi.

Tujuan penyebaran foto gembong teroris wahhabi ini dimaksudkan supaya masyarakat Internasional terutama kalangan elit PBB memahami siapa selama ini yang menjadi dalang terror atas kaum muslimin dan otak adu domba diantara kaum muslimin Sunah dan Syiah di Iraq.

Qashim Atha dalam konferensi ketika di tanya oleh wartawan cara dan strategi menangkap gembong teroris itu menjawab:" Saat ini saya tidak akan memaparkan operasi dan strategi untuk menangkap gembong teroris ini, tetapi perlu diketahui bahwa dalam jangkan 2 bulan ke depan kami bisa pastikan Abu Ammar akan kita tangkap", tegasnya.

Abdullah Rasyid Shaleh atau yang dikenal dengan Abu Ammar Al-Baghdadi adalah pemimpin organisasi teroris yang bernama "Khilafah Islamiah Iraq". Dia dilahirkan pada tahun 1947 di kota Baghdad.

Pada umur 8 tahun dia tinggal bersama ibunya karena bapaknya meninggal dunia. Di tangan ibunya inilah Abu Ammar pada umur 11 tahun dikenalkan dengan pemikiran ekstrem Wahhabiyah Salafiyah Saudiyah. Tahun 1985 secara resmi Abu Ammar masuk dalam jaringan kelompok wahhabi ekstrem Iraq yang kemudian dia menjadi salah satu anggota penting dalam organisasi ini. Tahun 1987 dia terpengaruh oleh pemikiran Osamah bin Laden pemimpin Al Qaedah dan untuk beberapa lama bersama Usamah di Afghanistan. Selama 3 tahun di Afghanistan inilah Abu Ammar menimba banyak pengalaman dari gurunya mulai dari taktik perang dan mengunakan senjata modern.

Setelah selesai merampungkan belajarnya menjadi teroris, Abu Ammar kembali ke Bagdad dan melanjutkan misi sang guru. Tetapi sebelum itu, Abu Ammar masuk dalam dinas tentara Saddam Husain dan menjadi anggota tentara Ba'at Iraq. namun pada saat itu dia di tuduh akan menumbangkan pemerintahan Saddam dan selajutnya dia di hukum mati oleh tentara Ba'ats.

Selama ini ketika namanya hilang dan masyarakat telah melupakannya, tiba-tiba saat terjadi perang antara tentara Amerika dan Al Qaedah di Falujah nama Abu Ammar yang telah dilupakan oleh rakyat Iraq muncul. saat itu dia menjabat sebagai panglima perang Falujah dan nama dia menjadi buah bibir di Iraq. Abu Ammar Al-Baghdadi pada tahun-tahun akhir di kenal sebagai panglima perang Al Qaedah Iraq dan dia juga menamakan organisasi yang dia pimpin dengan nama "Khilafah Islamiyah Iraq". Dengan bantuan tentara penjajah Amerika Serikat, dia menjadi dalang dari semua terror di Iraq dan dia pula otak dari usaha adu domba Sunah dan Syiah di Iraq.

Pengeboman di tempat-tempat suci Syiah baru-baru ini adalah kerja dari Abu Ammar koalisi dengan tentara Amerika Serikat.[Islammuhammadi/mt/farsnews]

Israel Minta Bantuan Mesir Kutuk Ahmadinejad

Mubarak
Mubarak Hosni
Kemesraan antara Mesir dan Israel begitu luar biasa, sampai-sampai untuk mengutuk Ahmadinejad, Israel minta bantuan pemerintahan Hosni Mobarak.
Situs berita Press Tv berbahasa Persia, dalam laporannya hari ini Rabu, 29/04/2009 menulis, untuk mengutuk presiden Iran Mahmod Ahamdinejad yang mengingkari Holocoust, Israel minta bantuan Mesir.

Berkaitan permintaan Israel, Koran berbahasa Al-Balad Lebanon hari ini juga merilis melalui sumber terpercaya dari pemerintah Mesir saat wawancara melalui telephon dengan koran ini, Fathi Surur ketua Parleman Mesir membenarkan adanya surat dari Israel yang meminta kepada Mesir untuk mengutuk Ahmadinejad karena mengingkari Holocoust.

Dalam pidato 21 April lalu, Ahmadinejad menolak mentah-mentah Holocaust. Karena pernyataan ini, Ahmadinejad dianggap oleh Israel sebagai anti kemanusiaan dan berkhianat terhadap bangsa Isreal.

Kantor perwakilan parleman Mesir menambah keterangan Fathi Surur mengenai surat permintaan tersebut. Surat yang di kirim pada peringatan Holocoust 21 April lalu itu berisikan permintaan Israel kepada pemerintah Mesir agar mengutuk Ahmadinejad. Dalam surat yang telah disebarluaskan itu, Israel menyamakan Ahmadinejad dengan Hitler kedua dan meminta kepada parlemen Mesir serta parleman-parleman dunia untuk tidak berdiam diri.

Selain pengutukan, isi dari surat parlemen Israel juga menganggap Ahmadinejad sebagai ancaman dunia.[Islammuhammadi/mt/presstv/Albalad]

Rabu, 29 April 2009

Akibat Durhaka kepada Orang Tua

Akibat Durhaka kepada Orang Tua

Setiap manusia mendambakan kebahagiaan dan kesuksesan, terhindar dari
kesengsaraan dan kegagalan di dunia dan akhirat. Di sinilah pentingnya
kita mengenal secara baik akibat-akibat durhaka kepada orang tua,
selain mempersiapkan bekal dan perangkat yang profesional untuk
menggapai cita-cita.

Tidak jarang kita saksikan anak yang durhaka pada orang tuanya, ia
harus menghadapi kendala-kendala yang berat, sulit meraih kebahagiaan
dan kesuksesan dalam hidupnya. Belum lagi ia harus dan pasti
menghadapi penderitaan yang berat saat sakratul maut, dan ini pernah
terjadi di zaman Rasulullah saw. Beliau sendiri tak sanggup
membimbingnya untuk mempertahankan keimanannya kecuali setelah ibunya
memaafkan.

Tidak sedikit juga anak yang durhaka, ia sangat sulit menemukan dan
merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya sekalipun ia
memiliki kemampuan profesional dan berkecukupan dalam materi. Bahkan
tidak jarang di antara mereka hampir-hampir putus asa dalam hidupnya
akibat kedurhakaannya terhadap kedua orang tuanya.

Fakta dan kenyataan yang kita jumpai dalam kehidupan keseharian bahwa
dalam kehidupan ini penuh dengan energi, yang positif dan negatif,
yang dapat menolong kita atau sebaliknya menghantam kekuatan kita.
Sehingga kita kehilangan kendali, gelap dan tak mampu melihat rambu-
rambu kebahagian dan kesuksesan yang sejati.

Kenyataan inilah yang rambu-rambunya sering diungkapkan oleh Allah dan
Rasul-Nya serta Ahlul baitnya (sa). Kita mesti menyadari bahwa mata
lahir kita, bahkan pikiran kita, punya keterbatan untuk menyoroti
rambu-rambu itu. Karena rambu-rambu itu jauh berada di atas kemampuan
sorot mata lahir dan analisa pikiran. Yang mengetahui semua itu secara
sempurna hanya Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang suci dari Ahlul
bait Nabi saw.
Tolok Ukur durhaka kepada orang tua
Allah swt berfirman: “Jika salah seorang di antara mereka telah
berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu
membentak mereka, ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-
Isra’: 23).

Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw: Apakah
ukuran durhaka kepada kedua orang tua?

Rasulullah saw menjawab: “Ketika mereka menyuruh ia tidak mematuhi
mereka, ketika mereka meminta ia tidak memberi mereka, jika memandang
mereka ia tidak hormat kepada mereka sebagaimana hak yang telah
diwajibkan bagi mereka.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 195)

Rasulullah saw pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): “Wahai
Ali, barangsiapa yang membuat sedih kedua orang tuanya, maka ia telah
durhaka kepada mereka.” (Al-Wasail 21: 389; Al-Faqîh 4: 371)

Tingkatan Dosa durhaka pada orang tua
Rasulullah saw bersabda: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik
kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua…” (Al-Mustadrak 17:
416)

Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga macam dosa yang akibatnya
disegerakan, tidak ditunda pada hari kiamat: durhaka kepada orang tua,
menzalimi manusia, dan ingkar terhadap kebajikan.” (Al-Mustadrak 12:
360)

Rasulullah saw bersabda: “…Di atas setiap durhaka ada durhaka yang
lain kecuali durhaka kepada orang tua. Jika seorang anak membunuh di
antara kedua orang tuanya, maka tidak ada lagi kedurhakaan yang lain
di atasnya.” (At-Tahdzib 6: 122)

Akibat-akibat durhaka kepada orang tua
Durhaka kepada orang tua memiliki dampak dan akibat yang luar bisa
dalam kehidupan di dunia, saat sakratul maut, di alam Barzakh, dan di
akhirat. Akibat itu antara lain:

Dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla
Dalam hadis Qudsi Allah swt berfirman: “Sesungguhnya yang pertama kali
dicatat oleh Allah di Lawhil mahfuzh adalah kalimat: ‘Aku adalah
Allah, tiada Tuhan kecuali Aku, barangsiapa yang diridhai oleh kedua
orang tuanya, maka Aku meridhainya; dan barangsiapa yang dimurkai
oleh keduanya, maka Aku murka kepadanya.” (Jâmi’us Sa’adât, penghimpun
kebahagiaan, 2: 263).

Selasa, 28 April 2009

Ahmadinejad: Dicinta dan Dinanti

Ahmadinejad
Ahmadinejad: Photo Farsnews
Mengapa Ahmadinejad selalu dikagumi? Rasanya sudah menjadi rahasia umum, kerinduan akan sosok yang berani melawan hegemoni dunia, diantara hal menarik yang tertancap kuat dalam sanubari warga dunia. Seperti yang baru saja terjadi di konferensi Durban 2, Jenewa. Meskipun politisi asal negara-negara adikuasa berusaha menghadang langkah berani Ahmadinejad dengan melakukan aksi walkout, tapi dukungan dari berbagai kalangan terhadap isi pidato Ahmadinejad tetap berdatangan dari berbagai belahan dunia.

Chanel 1 televisi Rusia, menyebutkan Pidato Ahmadinejad mendapat sambutan luar biasa dari peserta konferensi Jenewa, tentu saja dari yang hadir setelah aksi walkout. Beberapa jurnalis juga memuji kekuatan pidato Ahmadinejad, seperti diungkap jurnalis Mesir, yang dikutip Kaihan, Rabu, 22 April 2009: “Sejujurnya harus diakui , Ahmadinejad menjadi bintang dalam pertemuan Jenewa. Ia dengan penuh keberanian menyebutkan bahwa bangsa Israel lah yang paling rasial ”

Sambutan hangat juga berdatangan dari warga dunia lain, Masud Shajrah, ketua komisi hak-hak asasi manusia untuk urusan muslim Inggris dalam salah satu wawancaranya dengan Irna menyebutkan: “Pidato Ahmadi nejad dalam konferensi Jenewa mengungkap kebohongan para pengusung anti rasisme” Sedang salah seorang pengamat media CNN asal Inggris, menuliskan protes adanya dualisme dunia Barat: “Kita di sini selalu bicara soal kebebasan, tapi mengapa harus memboikot pidato Ahmadinejad”

Di dalam negeri sendiri, tanggapan atas pidato Ahmadinejad mengalir dari berbagai kalangan. Anggota dewan di sela-sela sidang mengeluarkan pernyataan mendukung penuh isi pidato Ahmadinejad. Ahmad Tavakoli dalam salah satu pernyataannya memuji sikap Ahmadinejad: “Para penuntut kebebasan bangga terhadap pembelaan Ahmadinejad pada kaum tertindas” Pernyataan serupa didukung oleh 210 anggota dewan lainnya.

Dari kalangan ulama, berbagai reaksi juga terus berdatangan. Ayatullah Nuri Hamedani menegaskan: “Inilah langkah keberanian yang diwariskan Imam Khomeini, Ahmadinejad di tengah situasi memanas, dengan sabar mampu menyelesaikan pidatonya dan menyeret Israel sebagai pihak yang sangat rasial” Sedang di kalangan masyarakat umum, sebuah lembaga polling yang dikutip Kayhan menyebutkan 90 persen masyarakat Iran menyetujui pidato Ahmadinejad meningkatkan rasa percaya diri warga Iran.

Reaksi positif juga muncul dari kalangan kampus. 40 organisasi kemahasiswaan, diantara yang cukup populer, Basij Daneshjui mengeluarkan pernyataan sikap bersama mendukung langkah presiden Ahmadinejad dalam konferensi Jenewa: “Pidato Ahmadinejad menunjukkan, sampai saat ini masyarakat dunia masih haus dengan seruan yang mengandung ruh, yang dapat menyatukan dunia tanpa memandang bangsa dan warna kulit”

Sosok yang berdiri tegar memperjuangkan kaum tertindas memang akan selalu di damba di muka bumi, dinanti pecintanya di setiap bumi. Seperti pagi itu, pukul 06.40 ratusan pemuda sudah mengitari bandara Mehrabad untuk menyambut kehadiran sang pemberani yang kembali dari sebuah misi kemanusiaan, misi anti rasisme. Barangkali inilah yang dimaksud kantor berita Fars, sebagai kembalinya sang pemenang.

Deklarasi Prematur Konferensi Durban II

Logo
Logo Konferensi Durban II
Para peserta Konferensi PBB Anti-Rasisme di Jenewa, kemarin (Selasa, 21/4) akhirnya mensahkan deklarasi akhir konferensi meski sidang masih berlangsung hingga 3 hari lagi. Dua hari lalu, kalangan media dan politik

Barat berusaha menggagalkan efek dari pidato Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad lewat perang psikologis dan serangan propaganda.

Dengan mengulang kembali tudingan-tudinga palsunya, mereka berusaha menampilkan sosok Ahmadinejad secara miring. Sehingga statement presiden Iran yang berisi kecaman terhadap segala bentuk rasisme di dunia itu bisa ditepis efek dominonya terhadap opini publik. Mereka juga berusaha mengaitkan reaksi para petinggi AS terhadap pidato anti-rezim zionis Ahmadinejad di Jenewa. Mereka menilai, pidato Ahmadinejad itu bisa berpengaruh buruk terhadap prospek hubungan Tehran-Washington.

Dalam reaksinnya terhadap pidato Ahmadinejad yang menyebut rezim zionis Israel sebagai contoh nyata rasisme, Presiden AS, Barack Obama menganggap pidato semacam itu tidak akan membantu kondisi yang ada. Ia menilai, hal itu justru merusak hubungan Iran dengan dunia. Meski demikian, presiden kulit hitam pertama AS ini masih menyatakan keinginannya untuk berdialog dengan Iran.

Santernya sorotan terhadap pidato Ahmadinejad di konferensi anti-rasisme atau Durban II ini, membuktikan bahwa salah satu pengaruh utama dari pidato itu adalah dukungan luas opini masyarakat muslim atas sikap tegas Iran terhadap rezim zionis.

Mengomentari soal kekhwatiran sejumlah negara Barat terhadap pernyataan Presiden Iran dalam konferensi Durban II, Ahmadinejad dalam wawancaranya dengan dua televisi Swiss berbahasa Perancis di Jenewa, menegaskan, "Kami menentang rasisme. Kami percaya akar permasalahan dunia mesti dicari dalam rasisme dan Iran siap membantu terwujudnya perdamaian dan keamanan serta pemberantasan rasisme di segenap kancah global". Ditambahkannya, "Mereka yang tidak hadir dalam konferensi anti-rasisme, jawaban apa yang akan mereka berikan kepada bangsa-bangsa? Apakah mereka pendukung rasisme, sehingga menolak hadir dalam konferensi? Mereka mesti menjawab dengan tegas pertanyaan ini".

Disahkannya deklarasi akhir konferensi Durban II sebelum berakhirnya sidang yang sedianya ditutup Jumat (24/4) nanti tentu menyimpan tendensi politik. Apalagi isi deklarasi tersebut tak sedikitpun menyinggung identitas rasisme kebijakan rezim zionis Israel. Padahal tujuan utama Durban II digelar untuk membantu memerangi rasisme. Ironisnya lagi, PM Rezim Zionis Israel, Benyamin Netanyahu justru memberikan apresiasi positifnya terhadap sikap walk-out para wakil negara-negara Eropa di saat Ahmadinejad membacakan pidato.